Air Berkarat Kini Lebih Layak, Unpad Bangun Instalasi di Fakfak
Jurna Core – Air berkarat selama ini menjadi persoalan yang dihadapi sebagian warga Bomberay-Tomage, Fakfak, Papua Barat. Sekilas, air dari sumur terlihat cukup jernih ketika baru ditimba. Namun, kondisinya berubah setelah didiamkan. Aroma seperti karat mulai tercium dan endapan pekat muncul di bagian bawah wadah. Situasi tersebut membuat kualitas air menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Kini, persoalan itu mulai mendapatkan solusi melalui enam Instalasi Pengolahan Air. Fasilitas tersebut dikembangkan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran atau TEP Unpad. Instalasi memanfaatkan sumber dari sumur bor yang sebelumnya dibangun TNI. Dengan demikian, program tidak hanya berusaha menyediakan sumber air. Tim juga meningkatkan kualitas air agar lebih sesuai untuk kebutuhan masyarakat. Langkah ini menjadi penting karena akses air bersih berhubungan langsung dengan kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Pemakaman Widodo AS di Kalibata Dihadiri Sejumlah Tokoh
Air Terlihat Jernih Belum Tentu Memiliki Kualitas Baik
Kondisi yang dialami warga menunjukkan bahwa kualitas air tidak dapat dinilai hanya melalui warna. Kepala Kampung Wonorejo, Aan, menjelaskan bahwa air sumur terlihat jernih saat pertama kali diambil. Meski demikian, air kemudian meninggalkan endapan setelah didiamkan. Bau karat juga menjadi keluhan warga. Fenomena tersebut membuat pengujian kualitas air sangat diperlukan. Sebab, karakter air dapat dipengaruhi kandungan mineral, tingkat keasaman, dan kondisi geologi setempat. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium dan pengukuran lapangan memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan pengamatan visual. Bagi masyarakat, persoalan ini sebenarnya sangat mendasar. Mereka membutuhkan sumber air yang tersedia setiap hari. Namun, pada saat yang sama, kualitasnya juga harus diperhatikan sebelum digunakan untuk konsumsi. Inilah alasan pengolahan air menjadi bagian penting dari pembangunan sumber air di wilayah tersebut.
Pengujian Air Berkarat Menemukan Tingkat Keasaman Tinggi
TEP Unpad bersama Puskesmas Bomberay mulai melakukan kajian sejak Agustus 2026. Tim memeriksa beberapa parameter air di sejumlah lokasi. Selain itu, mereka mengukur tinggi muka air tanah dan memetakan karakter sumber air. Hasil pemeriksaan kemudian menemukan persoalan pada tingkat keasaman. Ketua TEP Unpad, Dr. Eddy Renaldi, menyebut pH air pada salah satu lokasi mencapai sekitar 5,2. Sementara itu, kondisi di Tomage lebih asam dengan pH sekitar 4. Sebagai perbandingan sederhana, pH 7 bersifat netral. Semakin rendah angkanya, sifat air semakin asam. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan teknologi pengolahan. Jadi, solusi yang digunakan tidak dibuat hanya berdasarkan dugaan. Data lapangan membantu tim memahami masalah secara lebih spesifik. Pendekatan seperti ini juga membuat teknologi dapat disesuaikan dengan kondisi sumber air setempat.
Pasoepati Padjadjaran Mengolah Air sekaligus Menaikkan pH
Setelah memahami karakter air, tim mengembangkan WTP Pasoepati Padjadjaran sebagai solusi. Teknologi tersebut memiliki fungsi lebih dari sekadar penyaringan. Sistemnya juga dirancang untuk membantu meningkatkan pH air. Dengan demikian, proses pengolahan dapat menjawab persoalan yang ditemukan saat pengujian. Namun, tim juga menghadapi tantangan lain. Teknologi yang ditempatkan di kawasan masyarakat harus mudah digunakan dan dirawat. Alat yang terlalu rumit berpotensi tidak berfungsi maksimal dalam jangka panjang. Karena itu, kemudahan operasional menjadi bagian penting dari pengembangan instalasi. Menurut saya, pendekatan ini cukup masuk akal untuk proyek berbasis masyarakat. Teknologi terbaik bukan selalu teknologi yang paling rumit. Sebaliknya, teknologi tepat guna harus mampu bekerja sesuai kebutuhan sekaligus dapat dipelihara oleh pengguna setempat. Faktor tersebut akan menentukan keberlanjutan manfaatnya.
Enam Kampung Kini Memiliki Instalasi Pengolahan Air
Sepanjang Oktober 2026, TEP Unpad melakukan pemasangan instalasi di enam kampung. Lokasinya berada di Mekarsari, Thessa, Onim Jaya, Mbima Jaya, Wonorejo, dan Pinang Agung. Proses tersebut mendapat dukungan dari aparat TNI serta pemerintah kampung setempat. Kehadiran instalasi membuat sumur bor yang sudah tersedia memiliki fungsi lebih lengkap. Air dari sumber tersebut dapat melewati proses pengolahan sebelum digunakan masyarakat. Namun, pembangunan fasilitas tidak berhenti setelah alat terpasang. Tim juga mengadakan sosialisasi mengenai tata kelola instalasi. Kegiatan tersebut dilakukan sebelum fasilitas diserahkan kepada masyarakat. Langkah ini penting karena warga nantinya akan berperan dalam menjaga operasional fasilitas. Dengan kata lain, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan. Mereka juga menjadi bagian dari sistem yang menentukan keberlanjutan fasilitas air tersebut.
Baca Juga: Labfor Telusuri Tiga Lokasi Kasus Ibu dan Anak di Madiun
Sumur Bor TNI dan Teknologi Unpad Saling Melengkapi
Program di Fakfak menunjukkan pentingnya kolaborasi ketika menyelesaikan persoalan air bersih. Sebelumnya, TNI telah membantu menyediakan sumur bor di kawasan Bomberay-Tomage. Infrastruktur tersebut memberikan masyarakat akses terhadap sumber air tanah. Akan tetapi, persoalan berikutnya muncul pada kualitas air. Di sinilah TEP Unpad mengambil peran melalui teknologi pengolahan. Sumur bor menyediakan sumber air, sedangkan instalasi membantu memperbaiki kualitasnya. Kedua langkah tersebut akhirnya saling melengkapi. Selain itu, pemerintah kampung ikut mendukung pelaksanaan di lapangan. Pola kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh menarik bagi wilayah lain dengan tantangan serupa. Infrastruktur dasar memang penting. Namun, kualitas dan keberlanjutan fasilitas juga perlu diperhatikan. Ketika perguruan tinggi, aparat, pemerintah lokal, dan masyarakat bekerja bersama, solusi yang dihasilkan berpeluang lebih sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Persoalan Air Bersih Tidak Berhenti pada Ketersediaan
Akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Persoalannya pun tidak selalu sama. Sebagian daerah mengalami kekurangan sumber air. Sementara itu, wilayah lain memiliki sumber yang cukup tetapi kualitasnya belum ideal. Kondisi air berkarat di Fakfak menjadi salah satu contoh. Karena itu, pembangunan sumur saja terkadang belum menyelesaikan seluruh masalah. Kualitas air juga perlu diperiksa secara berkala. Air memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat membutuhkannya untuk minum, memasak, membersihkan rumah, dan berbagai aktivitas lainnya. Selain itu, kualitas air dapat berkaitan dengan aspek kesehatan. Oleh sebab itu, pendekatan pembangunan perlu melihat ketersediaan dan kualitas secara bersamaan. Program di Bomberay-Tomage memperlihatkan bagaimana dua persoalan tersebut dapat ditangani melalui kombinasi infrastruktur dan teknologi pengolahan.
Riset Kampus Berubah Menjadi Teknologi yang Bisa Digunakan Warga
Salah satu sisi menarik dari program ini adalah keterlibatan perguruan tinggi secara langsung. Data yang dikumpulkan tidak berhenti menjadi laporan penelitian. Sebaliknya, hasil pengujian digunakan untuk mengembangkan solusi yang dapat diterapkan di lapangan. Pendekatan tersebut memperlihatkan nilai praktis sebuah riset. Dalam kasus Fakfak, angka pH dan kondisi sumber air menjadi dasar untuk menentukan teknologi pengolahan. Selanjutnya, teknologi diterapkan pada fasilitas yang digunakan masyarakat. Pola tersebut juga menunjukkan pentingnya pembangunan berbasis data. Setiap wilayah memiliki karakter geografis dan lingkungan berbeda. Oleh karena itu, solusi yang berhasil di satu daerah belum tentu dapat diterapkan dengan cara sama di tempat lain. Riset membantu memahami perbedaan tersebut. Pada akhirnya, ilmu pengetahuan memberikan dampak lebih luas ketika mampu diterjemahkan menjadi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Pengelolaan Warga Menentukan Masa Depan Instalasi Air Fakfak
Enam instalasi yang telah dibangun menjadi awal dari pekerjaan yang lebih panjang. Setelah fasilitas diserahkan, keberlanjutannya akan bergantung pada pengelolaan di tingkat lokal. Perawatan berkala perlu dilakukan agar sistem tetap bekerja dengan baik. Selain itu, kualitas air sebaiknya terus dipantau sesuai kebutuhan dan standar yang berlaku. Pengelolaan berbasis masyarakat serta koperasi desa diharapkan dapat mendukung proses tersebut. Model ini memberikan ruang bagi warga untuk ikut bertanggung jawab terhadap fasilitas yang mereka gunakan. Jika berjalan konsisten, instalasi dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kehadiran air dengan kualitas lebih baik juga berpotensi mendukung kesehatan dan aktivitas masyarakat. Karena itu, keberhasilan proyek tidak hanya dapat diukur dari jumlah instalasi yang dibangun. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa lama fasilitas tersebut mampu bekerja dan memberikan manfaat nyata bagi warga Bomberay-Tomage.
