Nanik Tegaskan Program MBG Bukan Politik, Penerima Belum Punya Hak Pilih
Jurna Core – Perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, memberikan penjelasan yang cukup tegas. Menurutnya, Program MBG Bukan Politik, melainkan kebijakan jangka panjang yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Pernyataan tersebut muncul setelah beredar berbagai anggapan yang mengaitkan program ini dengan kepentingan politik menjelang Pemilu 2029. Namun demikian, Nanik mengajak masyarakat melihat program tersebut dari sisi manfaat nyata yang dirasakan penerima.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 1%, Blokade Houthi Buka Jalan Menuju USD100 per Barel?
Mayoritas Penerima Masih Belum Memiliki Hak Pilih
Salah satu alasan utama yang disampaikan Nanik cukup sederhana sekaligus logis. Ia menjelaskan bahwa mayoritas penerima manfaat Program MBG merupakan balita hingga anak sekolah dasar. Kelompok usia tersebut tentu belum memenuhi syarat sebagai pemilih pada Pemilu 2029. Oleh sebab itu, ia menilai tudingan bahwa program ini bertujuan mengumpulkan dukungan politik tidak sesuai dengan fakta. Justru sebaliknya, pemerintah ingin memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang lebih baik sejak usia dini agar memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi di masa depan.
Program Gizi Dipandang Sebagai Investasi Jangka Panjang
Dalam banyak negara, investasi pada sektor gizi selalu dianggap sebagai langkah strategis. Indonesia pun mulai menempatkan persoalan gizi sebagai prioritas nasional. Karena itu, Program MBG dinilai bukan sekadar pembagian makanan gratis, melainkan investasi terhadap sumber daya manusia. Anak yang memperoleh gizi seimbang memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, belajar lebih optimal, dan memiliki produktivitas yang lebih baik ketika dewasa. Dengan kata lain, manfaat program ini baru akan terasa secara penuh dalam jangka panjang.
Dampak Positif MBG Tidak Hanya Dirasakan Anak-Anak
Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi, Program MBG ternyata ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Nanik mencontohkan bahwa ketika kegiatan MBG berhenti sementara selama masa libur sekolah, permintaan terhadap hasil pertanian dan peternakan ikut menurun. Kondisi tersebut menyebabkan harga sejumlah komoditas melemah sehingga petani, peternak, hingga pedagang pasar merasakan dampaknya secara langsung. Fakta tersebut menunjukkan bahwa program ini memiliki efek berantai yang melibatkan banyak sektor ekonomi lokal.
Rantai Pasok Lokal Menjadi Bagian Penting Program
Pelaksanaan MBG membutuhkan pasokan bahan pangan setiap hari. Oleh karena itu, petani, peternak, pelaku UMKM, hingga distributor lokal memperoleh peluang usaha yang lebih stabil. Pola seperti ini sering disebut sebagai multiplier effect karena manfaatnya tidak berhenti pada penerima makanan saja. Sebaliknya, aktivitas ekonomi di berbagai daerah ikut bergerak. Apabila pengelolaannya terus diperbaiki, program ini berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Tabungan Kelas Menengah Melambat, Simpanan Rp5 Miliar Justru Terus Melejit Signifikan
Pengunduran Diri Nanik Dipicu Alasan Kesehatan
Di tengah pembahasan mengenai MBG, Nanik juga mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena kondisi kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan di luar negeri. Keputusan itu telah disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurut penjelasannya, Presiden menerima pengunduran diri tersebut dengan mempertimbangkan kondisi kesehatannya sehingga proses pergantian jabatan dapat berjalan secara baik.
Tetap Diminta Mengawal Badan Gizi Nasional
Meskipun tidak lagi memimpin BGN, Nanik mengungkapkan bahwa dirinya masih diminta berkontribusi dalam pengawasan lembaga tersebut. Ia menyebut kemungkinan pembentukan Dewan Pengawas yang bertugas memastikan program berjalan sesuai tujuan. Dengan pengalaman yang dimilikinya, keterlibatan tersebut dinilai dapat membantu menjaga keberlanjutan berbagai program strategis, termasuk Program Makan Bergizi Gratis. Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman birokrasi tetap dianggap penting meski seseorang telah meninggalkan jabatan operasional.
Program MBG Bukan Politik Perlu Dinilai dari Dampaknya
Pada akhirnya, perdebatan mengenai Program MBG sebaiknya tidak hanya berfokus pada isu politik. Sebaliknya, masyarakat perlu melihat hasil nyata yang muncul di lapangan. Jika kualitas gizi anak meningkat, angka stunting menurun, dan ekonomi lokal ikut bergerak, maka manfaat program tersebut akan lebih mudah diukur secara objektif. Transparansi, pengawasan, dan evaluasi tetap diperlukan agar pelaksanaannya semakin baik. Dengan pendekatan tersebut, Program MBG Bukan Politik dapat dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan persepsi yang berkembang.
