Riftstorm Resmi Rilis di Steam, Game Indonesia Ini Digarap Hampir 5 Tahun
Riftstorm Resmi Rilis di Steam, Game Indonesia Ini Digarap Hampir 5 Tahun
Jurna Core – Perjalanan panjang Riftstorm akhirnya memasuki babak baru. Game Indonesia yang dikembangkan Confiction Labs bersama Agate sebagai co-development partner itu resmi tersedia secara global melalui Early Access Steam pada 11 Agustus 2026. Peluncuran tersebut menjadi momen penting setelah tim menghabiskan hampir lima tahun untuk membangun dan menguji permainan. Proyek ini juga melibatkan lebih dari 120 talenta Indonesia dalam berbagai tahap produksi. Selama prosesnya, pengembang mencoba ratusan ide, konsep, serta sistem permainan. Tidak semuanya bertahan hingga versi sekarang. Beberapa konsep diubah, sedangkan lainnya ditinggalkan setelah melalui evaluasi. Proses panjang itu menunjukkan bagaimana pengembangan sebuah game membutuhkan eksperimen yang terus bergerak. Kini, Riftstorm memasuki fase berbeda karena pemain dari berbagai negara dapat ikut menentukan arah perkembangannya. Early Access bukan versi akhir, tetapi menjadi kesempatan bagi pengembang untuk menyempurnakan permainan menuju versi 1.0.
Baca Juga: Nikon dan Viltrox Dikabarkan Berseteru soal Paten Lensa Z-Mount
Game Indonesia Riftstorm Dibangun Lewat Perjalanan Hampir Lima Tahun
Hampir lima tahun menjadi perjalanan yang panjang untuk membawa Riftstorm menuju Early Access. Selama periode tersebut, Confiction Labs dan tim pengembang menghadapi berbagai perubahan dalam industri game. Tren pemain bergerak cepat, persaingan semakin padat, dan kebutuhan produksi terus berkembang. Oleh karena itu, tim tidak sekadar membangun konsep awal lalu membawanya langsung ke pasar. Mereka menguji banyak gagasan sebelum menemukan arah yang dianggap paling sesuai. Sejumlah sistem dipertahankan setelah memperoleh respons positif. Sebaliknya, beberapa ide harus diubah atau bahkan dibuang. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan Game Indonesia berskala global membutuhkan kemampuan beradaptasi. Selain kreativitas, developer juga harus membaca kebiasaan pemain dan perkembangan pasar. Tantangan sumber daya turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Setelah melewati berbagai perubahan, Riftstorm akhirnya mencapai tahap ketika publik dapat memainkan versi yang terus dikembangkan secara terbuka.
Lebih dari 120 Talenta Indonesia Terlibat dalam Produksi
Skala pengembangan Riftstorm terlihat dari jumlah orang yang terlibat di belakang layar. Lebih dari 120 talenta Indonesia disebut berkontribusi dalam berbagai tahapan produksi. Angka tersebut membuat proyek ini menarik dalam perkembangan industri game nasional. Selain tim yang berbasis di Indonesia, proyek tersebut juga mempertemukan profesional diaspora yang memiliki pengalaman di industri internasional. Menurut CEO Agate Shieny Aprilia, kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk menyatukan pengembang di Bandung dengan talenta Indonesia yang bekerja di berbagai negara. Beberapa profesional yang terlibat sebelumnya memiliki pengalaman pada waralaba seperti Dynasty Warriors, Warhammer, Magic: The Gathering, Yu-Gi-Oh!, SMITE, dan Samurai Warriors. Pengalaman tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan produksi tim lokal. Bagi perkembangan Game Indonesia, kolaborasi semacam ini memiliki nilai lebih luas. Pengetahuan dari proyek internasional dapat bertemu dengan talenta lokal dan membentuk pengalaman produksi yang berguna untuk proyek berikutnya.
Ribuan Pemain Dunia Sudah Menguji Riftstorm
Riftstorm tidak langsung menuju Early Access tanpa bertemu pemain. Sebelumnya, pengembang menjalankan beberapa tahap pengujian untuk mengukur respons komunitas. Pada public pre-alpha pertama, lebih dari 5.000 pemain ikut mencoba. Rata-rata waktu bermain tercatat sekitar satu jam 39 menit. Bahkan, beberapa pengguna memainkan Riftstorm selama lebih dari 50 jam. Antusiasme kemudian meningkat pada public pre-alpha kedua. Lebih dari 22.000 pemain dari 110 negara mengikuti pengujian tersebut. Secara keseluruhan, waktu bermain yang terkumpul melampaui 22.000 jam. Data seperti ini memiliki nilai besar bagi developer karena dapat memperlihatkan perilaku pemain dalam kondisi nyata. Pengembang dapat melihat bagian yang menarik, terlalu sulit, atau membutuhkan penyempurnaan. Selain itu, umpan balik membantu menentukan prioritas pengembangan. Bagi sebuah Game Indonesia yang menyasar pasar internasional, pengujian lintas negara juga membantu memastikan mekanisme permainan dapat diterima oleh komunitas dengan kebiasaan berbeda.
Riftstorm Pernah Menjadi Tren Nomor Satu di Steam
Perjalanan Riftstorm juga mencatat momentum menarik sebelum memasuki Early Access. Ketika public alpha digelar pada Oktober 2024, game ini disebut menduduki posisi pertama Global Trending Free di Steam selama tiga hari berturut-turut. Pencapaian tersebut berlangsung pada 19 hingga 21 Oktober 2024. Kemudian, Riftstorm kembali memperoleh perhatian ketika mengikuti Steam Next Fest pada Juni 2025. Demonya masuk dalam daftar 50 demo yang paling banyak dimainkan dari lebih dari 2.600 demo peserta. Pencapaian tersebut menunjukkan adanya ketertarikan awal dari komunitas global terhadap proyek ini. Namun, keberhasilan selama masa demo tentu berbeda dengan mempertahankan pemain dalam jangka panjang. Setelah Early Access dimulai, tantangannya bergeser menuju konsistensi pembaruan dan kualitas pengalaman bermain. Pengembang perlu memberikan alasan agar komunitas terus kembali. Karena itu, pencapaian sebelumnya dapat menjadi modal penting, tetapi perjalanan Game Indonesia tersebut masih memiliki tahapan panjang sebelum mencapai versi final.
Gameplay Co-op Membawa Pemain Menghadapi Ancaman Supranatural
Riftstorm menawarkan permainan aksi multiplayer co-op dengan fokus pada kerja sama antarpemain. Pemain menghadapi berbagai ancaman supranatural menggunakan karakter yang mempunyai kemampuan serta persenjataan berbeda. Sistem progres memungkinkan kemampuan karakter terus dikembangkan sepanjang permainan. Pengembang berusaha membuat mekanisme dasar cukup mudah dipahami oleh pemain baru. Namun, tersedia pula sistem build yang lebih dalam bagi mereka yang ingin bereksperimen. Pendekatan ini penting karena game co-op perlu melayani pemain dengan tingkat pengalaman berbeda. Pemain kasual dapat langsung menikmati aksi tanpa mempelajari terlalu banyak mekanisme. Sebaliknya, pemain yang ingin menguasai permainan dapat mengeksplorasi kombinasi karakter dan perlengkapan. Variasi tersebut berpotensi membuat setiap sesi terasa berbeda. Meski demikian, keseimbangan tetap menjadi tantangan utama. Sebuah Game Indonesia dengan orientasi multiplayer perlu menjaga gameplay tetap menarik setelah dimainkan berkali-kali. Karena itu, penambahan konten akan memegang peran penting selama Early Access.
Baca Juga: Apple Uji Chip Memori China untuk Merespons Krisis Pasokan Global
Early Access Dibuka dengan Harga Khusus di Steam
Saat memasuki Early Access, Riftstorm ditawarkan kepada pemain Indonesia dengan harga dasar Rp111.111. Pada periode peluncuran yang diinformasikan, diskon 20 persen membuat harganya turun menjadi Rp88.888. Strategi tersebut dapat menarik pemain yang sebelumnya mengikuti perkembangan game melalui pre-alpha, public alpha, atau Steam Next Fest. Namun, calon pemain perlu memahami bahwa Early Access berarti pengembangan belum selesai. Konten, keseimbangan permainan, performa, serta beberapa mekanisme masih dapat mengalami perubahan. Justru, fase tersebut memberikan kesempatan kepada komunitas untuk ikut memberikan umpan balik. Developer dapat melihat masalah yang sulit ditemukan melalui pengujian internal. Selain itu, jumlah pemain yang lebih besar menghasilkan data permainan yang lebih beragam. Bagi Riftstorm, tahap ini akan menentukan bagaimana versi 1.0 nantinya dibentuk. Karena itu, peluncuran Game Indonesia tersebut di Steam lebih tepat dipandang sebagai dimulainya fase pengembangan terbuka daripada garis akhir produksi.
Karakter hingga Misi Baru Disiapkan Menuju Versi 1.0
Confiction Labs dan Agate masih memiliki banyak pekerjaan setelah peluncuran Early Access. Pengembang berencana menghadirkan pembaruan yang mencakup karakter, senjata, musuh, serta variasi misi. Penyempurnaan gameplay juga menjadi bagian penting menuju versi penuh. Creative Director Confiction Labs Fandry Indrayadi menekankan bahwa Early Access bukan akhir perjalanan Riftstorm. Tim akan menggunakan periode tersebut untuk mendengarkan komunitas sekaligus mengevaluasi bagian yang masih membutuhkan perubahan. Strategi ini dapat memberikan keuntungan apabila komunikasi antara developer dan pemain berjalan konsisten. Namun, masukan komunitas juga perlu disaring dengan hati-hati. Tidak setiap permintaan cocok dengan arah desain sebuah game. Pengembang tetap membutuhkan visi yang jelas agar identitas Riftstorm tidak hilang akibat terlalu banyak perubahan. Jika keseimbangan tersebut berhasil dijaga, Game Indonesia ini memiliki kesempatan berkembang secara organik. Versi 1.0 nantinya dapat menjadi hasil kombinasi antara visi kreatif developer dan pengalaman nyata komunitas selama Early Access.
Early Access Menjadi Ujian Sesungguhnya bagi Komunitas Riftstorm
Popularitas awal memang membantu sebuah game mendapatkan perhatian, tetapi mempertahankan komunitas menjadi tantangan berbeda. Riftstorm kini harus menghadapi ujian tersebut. Sebagai game multiplayer, jumlah pemain aktif memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman keseluruhan. Konten yang terlalu lambat berkembang dapat membuat pemain kehilangan minat. Sebaliknya, pembaruan yang terlalu cepat tanpa pengujian cukup berisiko menghadirkan masalah baru. Oleh sebab itu, ritme pengembangan menjadi faktor penting. Confiction Labs dan Agate perlu menyeimbangkan konten baru dengan stabilitas permainan. Komunikasi mengenai roadmap juga dapat membantu pemain memahami arah proyek. Pengalaman selama public alpha memberikan modal berupa komunitas yang sudah mengenal Riftstorm. Namun, Early Access membawa kelompok pemain yang jauh lebih luas. Respons mereka dapat berbeda dari komunitas awal. Bagi Game Indonesia yang ingin membangun posisi di pasar global, kemampuan mempertahankan kepercayaan pemain akan sama pentingnya dengan jumlah unduhan pada hari peluncuran.
Riftstorm Membawa Ambisi Industri Game Indonesia ke Panggung Global
Kehadiran Riftstorm di Steam menunjukkan perkembangan menarik dalam ekosistem pengembang nasional. Indonesia memiliki banyak talenta yang sebelumnya terlibat dalam produksi game internasional. Kini, pengalaman tersebut semakin sering bertemu dengan proyek yang dikembangkan dari dalam negeri. Riftstorm menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi lokal dan diaspora dapat digunakan untuk mengerjakan proyek berskala lebih besar. Meski demikian, status sebagai Game Indonesia saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan global. Pemain pada akhirnya akan menilai kualitas gameplay, performa, konten, dan dukungan setelah peluncuran. Justru, standar tersebut membuat perjalanan Riftstorm semakin menarik untuk diperhatikan. Hampir lima tahun pengembangan telah membawa game ini menuju Early Access. Tahap berikutnya akan menentukan seberapa jauh Riftstorm dapat berkembang bersama komunitasnya. Jika pengembang mampu menjaga kualitas dan konsistensi pembaruan, proyek ini berpeluang menjadi salah satu referensi penting bagi perkembangan produksi game Indonesia yang berorientasi internasional.
