Keputihan Berubah Menjadi Hijau, Apa Penyebabnya dan Kapan Harus ke Dokter?

Keputihan Berubah Menjadi Hijau, Apa Penyebabnya dan Kapan Harus ke Dokter?

Jurna Core – Keputihan menjadi hijau dapat membuat seseorang khawatir, terlebih jika sebelumnya cairan vagina terlihat bening atau putih. Pada dasarnya, keputihan merupakan bagian normal dari sistem reproduksi. Cairan ini membantu menjaga vagina tetap lembap dan terlindungi. Jumlah dan teksturnya juga dapat berubah sepanjang siklus menstruasi. Namun, perubahan warna menjadi hijau atau kuning kehijauan berbeda dari variasi keputihan normal. NHS menyebut cairan vagina yang hijau, kuning, atau berbusa dapat berkaitan dengan infeksi seperti trikomoniasis. Meski demikian, warna saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. Bau, konsistensi, rasa gatal, nyeri saat buang air kecil, dan riwayat seksual juga perlu dipertimbangkan. Oleh sebab itu, sebaiknya hindari mendiagnosis kondisi sendiri hanya berdasarkan tampilan cairan. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Baca Juga: Mata Tiba-Tiba Bintitan? Ternyata Kebiasaan Sehari-hari Bisa Jadi Penyebab

Trikomoniasis Bisa Menyebabkan Cairan Berwarna Hijau

Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan keputihan menjadi hijau adalah trikomoniasis. Infeksi menular seksual ini disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Cairan yang muncul dapat terlihat tipis, berwarna kekuningan atau kehijauan, serta memiliki bau yang tidak biasa. Selain itu, sebagian orang mengalami rasa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, atau tidak nyaman saat buang air kecil. Namun, gejalanya tidak selalu jelas. CDC menjelaskan bahwa sebagian besar orang dengan trikomoniasis hanya mengalami gejala minimal atau bahkan tidak merasakan gejala sama sekali. Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan menjadi penting. Seseorang dapat memiliki infeksi tanpa menyadarinya. Trikomoniasis dapat diobati dengan obat resep setelah diagnosis ditegakkan. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi tersebut, pasangan seksual juga mungkin memerlukan evaluasi dan penanganan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi kembali.

Gonore Juga Dapat Memicu Perubahan Warna Keputihan

Selain trikomoniasis, gonore merupakan kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan. Gonore adalah infeksi menular seksual yang dapat terjadi setelah kontak seksual dengan seseorang yang terinfeksi. Pada perempuan, kondisi ini dapat menyebabkan cairan vagina berwarna kuning atau kehijauan. Gejala lain dapat berupa sensasi terbakar ketika buang air kecil, sakit pada perut bagian bawah, atau perdarahan di antara menstruasi. Meski begitu, tidak semua orang dengan gonore menunjukkan gejala. Karena itulah, tampilan keputihan tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis tunggal. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa menggunakan obat secara sembarangan bukan pilihan yang tepat. Penyebab keputihan abnormal dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Pengobatan harus disesuaikan dengan diagnosis. Jika terdapat risiko infeksi menular seksual, pemeriksaan dini membantu menentukan terapi sekaligus mengurangi kemungkinan infeksi terus ditularkan kepada pasangan.

Tidak Semua Keputihan Abnormal Disebabkan Penyakit Menular Seksual

Perubahan cairan vagina memang dapat berkaitan dengan infeksi menular seksual. Namun, tidak semua masalah keputihan berasal dari kondisi tersebut. Vaginitis, misalnya, merupakan istilah untuk peradangan atau iritasi pada vagina dan jaringan sekitarnya. Penyebabnya cukup beragam. Selain infeksi, iritasi akibat produk tertentu atau benda yang tertinggal di dalam vagina juga dapat menyebabkan masalah. Bacterial vaginosis atau BV juga menjadi penyebab umum perubahan cairan vagina. Namun, karakteristiknya lebih sering berupa cairan tipis berwarna putih keabu-abuan dengan bau amis yang kuat. Sementara itu, infeksi jamur biasanya lebih identik dengan cairan putih kental disertai gatal. Perbedaan ini membantu dokter mempersempit kemungkinan penyebab, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan. Karena gejala berbagai kondisi dapat saling menyerupai, diagnosis berdasarkan warna saja berisiko menghasilkan kesimpulan yang salah.

Bau, Gatal dan Nyeri Bisa Memberikan Petunjuk Tambahan

Ketika keputihan menjadi hijau, perhatikan apakah terdapat perubahan lain pada tubuh. Cairan yang disertai bau tidak biasa, misalnya, lebih patut mendapatkan perhatian. Begitu pula jika muncul gatal, kemerahan, rasa terbakar, atau nyeri di sekitar vagina. Rasa sakit saat buang air kecil maupun berhubungan seksual juga dapat menyertai beberapa jenis infeksi. Selain itu, nyeri panggul atau perdarahan di luar jadwal menstruasi perlu diperhatikan. Informasi mengenai gejala penyerta sangat berguna ketika berkonsultasi dengan dokter. Catat kapan perubahan mulai terjadi dan bagaimana karakter cairannya. Riwayat penggunaan obat, produk pembersih baru, serta aktivitas seksual juga dapat membantu proses evaluasi. Namun, gejala yang ringan bukan berarti penyebabnya pasti ringan. Sebagian infeksi menular seksual dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. Oleh sebab itu, pemeriksaan tetap menjadi pilihan paling aman ketika perubahan keputihan terasa tidak biasa.

Hindari Douching dan Produk Pewangi untuk Menyamarkan Gejala

Keinginan untuk segera menghilangkan bau atau perubahan keputihan dapat membuat seseorang mencoba berbagai produk pembersih. Namun, tindakan tersebut belum tentu membantu. NHS menyarankan agar bagian luar area vagina dibersihkan secara lembut dan menghindari produk berpewangi. Membersihkan bagian dalam vagina dengan metode douching juga tidak dianjurkan. Vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga lingkungannya. Karena itu, penggunaan produk secara berlebihan justru dapat menimbulkan iritasi. Selain itu, menyamarkan bau tidak menyelesaikan penyebab keputihan abnormal. Jika penyebabnya adalah infeksi, kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang sesuai dengan hasil pemeriksaan. Sebaiknya jangan menggunakan antibiotik atau obat antijamur yang tersisa dari pengobatan sebelumnya tanpa arahan tenaga kesehatan. Gejala yang terlihat serupa belum tentu mempunyai penyebab sama. Pendekatan sederhana ini membantu menghindari pengobatan yang tidak diperlukan sekaligus menjaga gejala tetap mudah dievaluasi oleh dokter.

Baca Juga: 7 Tips Ikut Race Lari Pertama agar Tak Kewalahan

Pemeriksaan Dokter Membantu Menentukan Penyebab Secara Tepat

Kunjungan ke dokter tidak selalu berarti ada penyakit serius. Pemeriksaan justru membantu membedakan kondisi yang mudah ditangani dari masalah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Dokter biasanya akan menanyakan karakter cairan, lama gejala, keluhan penyerta, dan riwayat kesehatan. Bila diperlukan, sampel cairan dapat diperiksa untuk mencari penyebab infeksi. Pemeriksaan terhadap infeksi menular seksual juga dapat direkomendasikan berdasarkan gejala dan faktor risiko. Hal ini penting karena banyak IMS dapat muncul tanpa tanda yang khas. NHS menegaskan bahwa tes merupakan cara untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang memiliki IMS. Dengan diagnosis yang jelas, terapi dapat diberikan secara lebih tepat. Pendekatan ini jauh lebih aman dibandingkan mencoba beberapa obat berdasarkan dugaan. Selain itu, apabila ditemukan infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, tenaga kesehatan dapat memberikan panduan mengenai pemeriksaan pasangan dan langkah untuk mencegah infeksi berulang.

Kapan Keputihan Hijau Harus Dibawa ke Dokter?

Perubahan warna keputihan menjadi hijau sebaiknya diperiksakan, terutama bila perubahan tersebut baru pertama kali terjadi atau berbeda dari kondisi biasanya. Pemeriksaan semakin penting jika cairan berbau tidak sedap, jumlahnya meningkat, atau disertai gatal dan rasa sakit. Nyeri ketika buang air kecil, nyeri panggul, serta perdarahan setelah berhubungan seksual atau di antara menstruasi juga menjadi alasan untuk mencari pertolongan medis. Bila gejala muncul setelah berhubungan dengan pasangan baru, pemeriksaan IMS juga patut dipertimbangkan. Sementara itu, nyeri panggul yang berat atau semakin memburuk, pusing hingga hampir pingsan, kesulitan bernapas, atau perdarahan vagina yang berat membutuhkan pertolongan medis segera. Jadi, tidak perlu menunggu sampai gejala menjadi berat. Perubahan cairan vagina yang jelas berbeda dari biasanya sudah merupakan alasan yang cukup untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Keputihan Hijau Saat Hamil Memerlukan Perhatian Lebih

Keputihan memang biasanya meningkat selama kehamilan. Cairan yang sehat umumnya tipis, bening, atau putih susu serta tidak memiliki bau yang tidak menyenangkan. Namun, cairan berwarna hijau atau kuning bukan perubahan yang sebaiknya dianggap normal begitu saja. NHS menyarankan ibu hamil menghubungi tenaga kesehatan jika cairan berubah menjadi hijau atau kuning, berbau tidak biasa, menyebabkan gatal, atau disertai nyeri saat buang air kecil. Perhatian tambahan diperlukan karena beberapa infeksi dapat memengaruhi kesehatan selama kehamilan. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan mencoba mengobatinya sendiri dengan obat bebas tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Selain itu, perdarahan selama kehamilan membutuhkan penilaian medis. Pemeriksaan lebih awal memberikan kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab perubahan cairan dan menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi kehamilan.

Mengenali Perubahan Tubuh Lebih Penting daripada Menebak Diagnosis

Keputihan menjadi hijau merupakan tanda yang layak diperhatikan, tetapi bukan diagnosis sebuah penyakit. Trikomoniasis dan gonore termasuk kemungkinan penyebab, sementara kondisi lain juga dapat menghasilkan keluhan yang menyerupai infeksi. Karena itu, pendekatan terbaik adalah memperhatikan perubahan tubuh secara menyeluruh. Warna, bau, tekstur, rasa gatal, nyeri, serta perdarahan dapat menjadi informasi penting saat pemeriksaan. Menurut saya, memahami perbedaan antara mengenali gejala dan mendiagnosis penyakit sangat penting dalam informasi kesehatan. Artikel internet dapat membantu seseorang mengetahui kapan perlu waspada. Namun, artikel tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung dan tes laboratorium. Keputihan normal sendiri dapat berubah jumlah maupun teksturnya sepanjang waktu. Sebaliknya, perubahan warna, bau, atau konsistensi yang tidak biasa dapat menjadi tanda infeksi. Jika ragu, berkonsultasi lebih awal merupakan langkah yang lebih aman daripada menunda pemeriksaan atau menggunakan obat berdasarkan perkiraan.