Kebakaran Kampung Adat Sade Hanguskan 75 Rumah, Kerugian Capai Rp34 Miliar
Jurna Core – Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menghadapi dampak besar setelah kebakaran pada Sabtu (23/8/2026). Berdasarkan pendataan terbaru Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, sebanyak 75 rumah dan 69 art shop milik warga hangus. Angka tersebut memperbarui laporan awal yang sempat menyebut 129 rumah terdampak. Tidak hanya tempat tinggal, sejumlah bangunan adat dan fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp34 miliar. Kini, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada pembangunan kembali rumah warga. Tata ruang dan sistem perlindungan kebakaran juga menjadi bahan evaluasi. Pasalnya, pemulihan Sade membutuhkan pendekatan khusus. Kawasan ini merupakan ruang hidup masyarakat sekaligus bagian penting dari warisan budaya dan pariwisata Lombok.
Baca Juga: Ayah di Merauke yang Dipuji Tabah Ternyata Jadi Tersangka Pembunuhan Anaknya Sendiri
Kampung Adat Sade Kehilangan 75 Rumah akibat Kebakaran
Setelah kondisi memungkinkan, pemerintah melakukan pendataan ulang terhadap kawasan yang terdampak. Hasil terbaru menunjukkan 75 rumah hangus dalam kebakaran tersebut. Data ini berbeda dari informasi awal yang menyebut 129 rumah. Pembaruan dilakukan setelah petugas memeriksa kondisi bangunan secara lebih rinci. Proses pendataan melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, Dinas Pariwisata, perangkat desa, serta unsur terkait lainnya. Langkah ini penting karena jumlah bangunan terdampak akan menjadi dasar penanganan berikutnya. Selain itu, pemerintah membutuhkan data yang akurat untuk menyusun kebutuhan rekonstruksi. Bagi warga, rumah yang terbakar bukan hanya bangunan fisik. Tempat tersebut juga menjadi ruang keluarga menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, proses pemulihan akan membutuhkan perhatian pada kebutuhan sosial masyarakat.
Sebanyak 69 Art Shop Milik Warga Ikut Hangus
Dampak ekonomi juga menjadi perhatian karena 69 art shop atau toko seni dilaporkan terbakar. Keberadaan toko-toko tersebut berkaitan erat dengan aktivitas wisata di Sade. Warga biasanya menawarkan berbagai produk kerajinan kepada wisatawan yang datang. Karena itu, hilangnya art shop dapat mengganggu sumber pendapatan sejumlah keluarga. Pemulihan kawasan nantinya tidak cukup hanya berfokus pada rumah. Ruang usaha masyarakat juga perlu mendapat perhatian agar aktivitas ekonomi dapat kembali bergerak. Terlebih lagi, sektor wisata memiliki hubungan langsung dengan kehidupan warga di kawasan adat. Jika kegiatan perdagangan berhenti terlalu lama, tekanan ekonomi bisa bertahan meskipun pembangunan fisik telah dimulai. Oleh sebab itu, pemulihan usaha lokal menjadi bagian penting dari proses bangkitnya Sade.
Bangunan Adat dan Fasilitas Umum Turut Terdampak
Api juga merusak berbagai bangunan yang memiliki fungsi sosial bagi masyarakat. Data sementara mencatat satu masjid ikut terdampak. Selain itu, empat berugak sekenam dan enam berugak sekepat masuk dalam daftar kerusakan. Sejumlah lumbung juga terkena dampak kebakaran. Fasilitas lain yang tercatat terdampak meliputi balai desa, toilet, serta gerbang adat. Bahkan, sekitar 20 rumah yang berada di luar kawasan utama Desa Adat Sade dilaporkan ikut terkena dampak. Luasnya kerusakan menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya memengaruhi satu bagian permukiman. Fasilitas yang biasa digunakan untuk aktivitas sosial juga ikut terganggu. Karena itu, proses pembangunan kembali harus mempertimbangkan fungsi setiap bangunan. Prioritas tentu diberikan pada kebutuhan dasar warga. Namun, fasilitas sosial dan adat tetap menjadi bagian penting dari pemulihan kehidupan masyarakat.
Kerugian Kebakaran Diperkirakan Mencapai Rp34 Miliar
Besarnya kerusakan membuat nilai kerugian sementara mencapai sekitar Rp34 miliar. Estimasi tersebut diperoleh melalui penghitungan bersama sejumlah pihak. Pemerintah daerah, aparat keamanan, Dinas Pariwisata, serta perangkat desa terlibat dalam proses tersebut. Meski demikian, nilai kerugian masih dapat berubah seiring pendataan lanjutan. Kerugian juga tidak hanya dapat dihitung berdasarkan harga bangunan yang terbakar. Kehilangan barang, tempat usaha, serta terganggunya aktivitas wisata dapat memberikan dampak ekonomi tambahan. Selain itu, masyarakat membutuhkan biaya untuk memulai kembali kehidupan setelah bencana. Dari sisi pemerintah, kebutuhan rekonstruksi juga berpotensi cukup besar. Oleh sebab itu, data kerugian yang akurat diperlukan agar bantuan dapat diarahkan secara tepat.
Kebakaran Menghantam Kehidupan dan Ekonomi Warga
Bagi wisatawan, Sade dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok. Namun, bagi masyarakat setempat, kawasan tersebut adalah rumah sekaligus tempat mencari penghasilan. Inilah yang membuat dampak kebakaran terasa berlapis. Sebagian warga kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, pemilik art shop juga kehilangan ruang untuk menjalankan usaha. Aktivitas wisata pun berpotensi terganggu selama proses pemulihan berlangsung. Menurut saya, kondisi ini membuat pendekatan pemulihan ekonomi sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Warga membutuhkan tempat tinggal yang aman. Namun, mereka juga perlu kembali memiliki sumber pendapatan. Dukungan bagi usaha lokal dapat membantu mempercepat pemulihan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembangunan kembali tidak berhenti pada berdirinya bangunan baru.
Rekonstruksi Sade Harus Mempertahankan Identitas Budaya
Membangun kembali Kampung Adat Sade tentu berbeda dengan merekonstruksi permukiman biasa. Kawasan tersebut memiliki karakter arsitektur, tata ruang, dan nilai budaya yang khas. Karena itu, pembangunan tidak dapat hanya mengejar kecepatan. Identitas kawasan perlu tetap dipertahankan agar rekonstruksi tidak menghilangkan karakter Sade. Di sisi lain, keselamatan warga harus menjadi pertimbangan utama. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah masih membahas tata ruang yang akan digunakan dalam pembangunan berikutnya. Pembahasan ini menjadi kesempatan untuk mencari keseimbangan antara pelestarian budaya dan mitigasi bencana. Teknologi keselamatan modern dapat diterapkan tanpa harus mengubah seluruh wajah kampung. Namun, masyarakat adat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan. Mereka memahami fungsi ruang dan nilai budaya yang melekat pada setiap bagian kawasan.
Baca Juga: Duka Pascagempa Flores, Balita 2 Tahun Meninggal Setelah Sakit di Pengungsian
Tata Ruang Baru Bisa Menekan Risiko Kebakaran
Kebakaran besar ini membuka kebutuhan untuk mengevaluasi tata ruang kawasan. Jarak antarrumah menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan. Selain itu, akses petugas pemadam dan ketersediaan sumber air juga penting. Pada kawasan dengan bangunan berdekatan, api dapat menyebar dengan cepat. Oleh sebab itu, jalur darurat perlu dirancang agar mudah digunakan ketika terjadi bencana. Peralatan pemadam awal juga dapat ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau. Namun, perubahan tata ruang harus mempertimbangkan struktur sosial dan budaya masyarakat. Pendekatan teknis semata berisiko mengubah karakter kampung. Karena itu, pemerintah, ahli kebencanaan, ahli budaya, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menentukan solusi. Dengan perencanaan yang tepat, keselamatan dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan identitas kawasan.
Mitigasi Kebakaran Perlu Diperkuat Setelah Rekonstruksi
Pembangunan kembali sebaiknya berjalan bersama peningkatan kesiapsiagaan. Alat pemadam sederhana dapat disediakan di sejumlah titik strategis. Selain itu, warga dapat memperoleh pelatihan mengenai respons awal ketika api muncul. Jalur evakuasi juga perlu diketahui seluruh masyarakat. Pemeriksaan terhadap sumber risiko kebakaran dapat dilakukan secara rutin. Langkah seperti ini penting karena beberapa menit pertama sering menentukan seberapa cepat api berkembang. Sementara itu, koordinasi dengan petugas pemadam perlu diperkuat agar respons darurat dapat berlangsung lebih cepat. Sistem mitigasi tidak harus mengubah tradisi masyarakat. Sebaliknya, perlindungan dapat disesuaikan dengan karakter bangunan dan kehidupan warga. Tujuannya adalah menjaga keselamatan manusia sekaligus mempertahankan nilai budaya kawasan.
Pemulihan Kampung Adat Sade Menjadi Ujian Pelestarian Budaya
Kebakaran di Kampung Adat Sade meninggalkan pekerjaan besar bagi pemerintah dan masyarakat. Sebanyak 75 rumah serta 69 art shop tercatat hangus. Berbagai fasilitas sosial dan bangunan adat juga mengalami kerusakan. Sementara itu, kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp34 miliar. Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar mengganti bangunan yang hilang. Sade perlu dibangun kembali dengan tetap mempertahankan identitas yang membuatnya berbeda. Pada saat yang sama, kawasan tersebut harus memiliki perlindungan lebih baik terhadap kebakaran. Jika proses rekonstruksi mampu mempertemukan kedua kebutuhan itu, Sade dapat bangkit dengan kondisi yang lebih tangguh. Peristiwa ini juga dapat menjadi pelajaran bagi kawasan adat lain di Indonesia. Pelestarian budaya dan mitigasi bencana tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
