Luhut Ingatkan Pemimpin Pentingnya Mendengar Masukan Sebelum Ambil Keputusan

Luhut Ingatkan Pemimpin Pentingnya Mendengar Masukan Sebelum Ambil Keputusan

Jurna Core – Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pandangannya mengenai cara seorang pemimpin mengambil keputusan. Menurut dia, pemimpin perlu bersedia mendengar pendapat orang lain. Pesan Luhut soal kepemimpinan tersebut disampaikan saat pembukaan Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Senin, 28 September 2026. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dalam melihat persoalan. Karena itu, masukan dari orang lain dapat memberikan sudut pandang yang sebelumnya tidak terlihat. Pendekatan tersebut tidak berarti seorang pemimpin kehilangan kewenangan. Sebaliknya, keputusan tetap berada pada pemimpin setelah berbagai informasi dan pandangan dipertimbangkan.

Merasa Paling Benar Bisa Mempersempit Sudut Pandang

Salah satu hal yang disorot Luhut adalah sikap merasa paling benar. Dalam pengambilan keputusan, keyakinan memang dibutuhkan. Namun, keyakinan tanpa ruang untuk koreksi dapat membuat persoalan dilihat hanya dari satu sisi. Sebuah kebijakan publik biasanya melibatkan banyak variabel. Dampaknya juga dapat berbeda antara satu kelompok masyarakat dan kelompok lainnya. Oleh sebab itu, diskusi dengan orang yang memiliki keahlian berbeda dapat memperkaya pertimbangan. Menurut Luhut, manusia tidak mungkin melihat seluruh sudut persoalan seorang diri. Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa kemampuan mendengar menjadi bagian penting dalam proses kepemimpinan.

Tim Menjadi Sumber Perspektif yang Berbeda

Luhut juga menyinggung pengalamannya bekerja bersama tim selama menjalankan berbagai tugas pemerintahan. Ia mengatakan banyak memperoleh masukan dari orang-orang muda di sekitarnya. Dalam pandangannya, sejumlah pekerjaan tidak dapat dianggap sebagai pencapaian satu individu. Ada kontribusi tim yang ikut membentuk keputusan dan pelaksanaannya. Pola kerja seperti ini memperlihatkan fungsi penting kolaborasi. Seorang pemimpin dapat memiliki pengalaman panjang, sedangkan anggota tim membawa pengetahuan teknis atau perspektif baru. Ketika keduanya dipertemukan, pembahasan dapat menjadi lebih lengkap. Namun, kualitas masukan tetap perlu diuji dengan data dan konteks sebelum digunakan sebagai dasar keputusan.

Kajian Membantu Menguji Sebuah Gagasan

Mendengar masukan merupakan satu tahap. Setelah itu, gagasan perlu diuji melalui kajian yang memadai. Luhut mendorong pendekatan bertahap dalam menjalankan program pemerintah. Cara ini memberi kesempatan untuk melihat persoalan sebelum kebijakan diterapkan dalam skala lebih besar. Dari sisi manajemen kebijakan, pendekatan tersebut memiliki keuntungan praktis. Pemerintah dapat menemukan hambatan teknis, mengukur respons masyarakat, dan menilai apakah asumsi awal sesuai dengan kenyataan. Jika muncul masalah, perbaikan dapat dilakukan lebih awal. Dengan demikian, kajian berfungsi bukan untuk memperlambat keputusan, melainkan mengurangi risiko kesalahan ketika program diperluas.

Uji Coba GovTech Memberikan Pelajaran dari Lapangan

Luhut menggunakan pengembangan Government Technology atau GovTech sebagai salah satu contoh. Sistem tersebut telah diuji di sejumlah wilayah, termasuk Banyuwangi. Uji coba digunakan untuk memahami persoalan pada penyaluran bantuan sosial dan kualitas data penerima. Dalam keterangan sebelumnya, Luhut menyebut implementasi sistem menemukan sekitar 77 persen penyaluran bantuan di Banyuwangi tepat sasaran. Artinya, masih terdapat ruang perbaikan pada bagian lainnya. Pengujian seperti ini memberikan gambaran yang lebih konkret dibandingkan hanya menggunakan asumsi dari atas meja. Data lapangan kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki mekanisme sebelum sistem dikembangkan lebih luas.

Kebijakan Bertahap Memberikan Ruang untuk Koreksi

Program berskala besar membawa konsekuensi yang juga besar. Kesalahan kecil dalam desain dapat berkembang ketika diterapkan kepada jutaan penerima. Karena itu, pendekatan bertahap memiliki fungsi penting. Pemerintah dapat memulai dari ruang lingkup terbatas, mengumpulkan data, lalu melakukan koreksi. Setelah hasilnya dinilai memadai, implementasi dapat diperluas. Cara tersebut juga memungkinkan pembuat kebijakan membandingkan target dengan kondisi nyata. Dalam konteks inilah pesan Luhut soal kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan menerima koreksi. Pemimpin tidak hanya membutuhkan keberanian menjalankan keputusan. Ia juga perlu bersedia mengubah pendekatan ketika data menunjukkan adanya masalah.

DEN Menggunakan Kajian untuk Membaca Kondisi Lapangan

Pendekatan berbasis data juga digunakan Dewan Ekonomi Nasional dalam mengevaluasi sejumlah program pemerintah. Pada Juni 2026, DEN melaporkan hasil survei pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden. Survei tersebut dilakukan pada sekitar 800 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di berbagai daerah. Kajian lapangan seperti ini dapat memberikan informasi yang sulit diperoleh hanya melalui laporan administratif. Pemerintah dapat melihat variasi kondisi antarwilayah serta persoalan yang muncul pada tahap implementasi. Namun, data tetap perlu dianalisis sesuai metodologi dan konteksnya. Banyaknya titik pengamatan tidak otomatis menjawab seluruh persoalan, tetapi dapat memberikan dasar tambahan bagi proses evaluasi.

Baca Juga: Aturan ARA-ARB BEI Berubah Hari Ini, Investor Perlu Cermati

Optimisme Perlu Berjalan Bersama Evaluasi

Luhut juga menekankan pentingnya menjaga optimisme. Namun, menurut pandangannya, optimisme perlu berjalan bersama kajian yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Dua hal tersebut sebenarnya tidak bertentangan. Optimisme dapat memberikan arah dan keberanian untuk menjalankan gagasan. Sementara itu, evaluasi membantu memastikan pelaksanaan tidak terlepas dari kondisi nyata. Jika sebuah program menghadapi kendala, koreksi tidak harus dianggap sebagai kegagalan. Sebaliknya, perubahan dapat menjadi bagian dari proses penyempurnaan. Dalam kebijakan publik, kemampuan menyesuaikan keputusan berdasarkan bukti sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menetapkan tujuan sejak awal.

Keteladanan Menjadi Bagian dari Kepemimpinan

Selain kemampuan mendengar, Luhut menempatkan keteladanan sebagai unsur penting. Menurutnya, pemimpin perlu menunjukkan kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Prinsip ini berhubungan dengan kepercayaan. Sebuah arahan akan lebih mudah diterima ketika orang yang menyampaikannya juga menjalankan standar yang sama. Namun, keteladanan tidak berarti seorang pemimpin harus terlihat sempurna. Luhut justru mengakui bahwa manusia memiliki kekurangan. Kesediaan untuk mendengar dan belajar dapat menjadi bagian dari keteladanan tersebut. Dari sudut pandang organisasi, sikap seperti ini juga dapat menciptakan ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan persoalan tanpa takut berbeda pandangan.

Data Tidak Menggantikan Pertimbangan Manusia

Penggunaan data sering dipandang sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan kebijakan. Namun, angka tetap membutuhkan interpretasi. Data dapat menunjukkan pola, tetapi keputusan akhirnya harus mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi, dan kondisi lapangan. Karena itu, pendekatan berbasis data sebaiknya berjalan bersama dialog dengan pihak yang terdampak. Pemimpin perlu memahami apa yang ditunjukkan angka sekaligus mengetahui keterbatasan data tersebut. Pendekatan semacam ini membuat proses pengambilan keputusan lebih seimbang. Teknologi dan analisis memberikan informasi, sedangkan manusia menentukan bagaimana informasi itu digunakan secara bertanggung jawab.

Mendengar Menjadi Bagian dari Proses Mengambil Keputusan

Pada akhirnya, pesan Luhut soal kepemimpinan berpusat pada proses sebelum sebuah keputusan dibuat. Mendengar memberikan tambahan perspektif. Kajian membantu menguji asumsi. Sementara itu, pelaksanaan bertahap memberikan kesempatan untuk menemukan masalah lebih awal. Ketiga unsur tersebut dapat bekerja bersama tanpa menghilangkan tanggung jawab seorang pemimpin untuk menentukan pilihan. Pandangan yang disampaikan Luhut juga menunjukkan bahwa optimisme tidak harus menutup ruang evaluasi. Sebuah kebijakan dapat memiliki tujuan besar sekaligus tetap diuji secara kritis. Dengan cara tersebut, proses pengambilan keputusan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan di lapangan.