Volume TWS Terlalu Keras Bisa Merusak Telinga Ini Batasnya

Volume TWS Terlalu Keras Bisa Merusak Telinga Ini Batasnya

Jurna Core – TWS, headset, dan earphone sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Perangkat ini menemani perjalanan, bekerja, bermain game, hingga menonton film. Masalahnya, pengalaman audio yang semakin imersif terkadang membuat pengguna menaikkan volume tanpa sadar. Apalagi ketika perangkat digunakan di tempat ramai. Musik yang awalnya terdengar pelan kemudian dinaikkan sedikit demi sedikit untuk menutupi suara sekitar. Kebiasaan inilah yang perlu diperhatikan. Risiko terhadap pendengaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara yang masuk ke telinga. Durasi mendengarkan juga memiliki peran penting. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat suara, semakin pendek waktu paparan yang sebaiknya diterima telinga.

Baca Juga: AI Buka Peluang Lapangan Kerja Baru hingga 2030, Ini Proyeksinya

Volume Tinggi Bisa Memberikan Dampak dalam Waktu Singkat

Tidak semua suara memiliki tingkat risiko yang sama. Kate Johnson, profesional audiologi dari University of Utah, menjelaskan bahwa semakin keras suara, semakin cepat pula paparan tersebut dapat menyebabkan masalah pendengaran. Perangkat audio modern bahkan dapat menghasilkan tingkat suara yang sangat tinggi. Pada level ekstrem sekitar 120 dBA, paparan dapat berisiko terhadap pendengaran dalam waktu sangat singkat. Karena itu, kemampuan sebuah headset menghasilkan suara keras bukan berarti pengguna perlu memanfaatkannya sampai batas maksimal. Justru kontrol volume menjadi bagian penting ketika TWS atau headset digunakan setiap hari. Terlebih lagi, paparan suara keras dapat terjadi berulang tanpa langsung menimbulkan keluhan yang terasa berat.

Batas 60 Persen Bisa Menjadi Patokan Praktis

Mengukur tingkat suara headset secara presisi tidak selalu mudah bagi pengguna biasa. Oleh sebab itu, aturan sederhana dapat membantu. Salah satu panduan praktis yang sering digunakan adalah menjaga volume sekitar 60 persen atau lebih rendah dari kapasitas maksimal perangkat. Sementara itu, rentang sekitar 65–85 dBA sering digunakan sebagai gambaran tingkat suara yang lebih moderat. Namun, persentase volume pada setiap perangkat tidak selalu menghasilkan tingkat desibel yang sama. Jenis headphone, rekaman audio, perangkat sumber, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi hasilnya. Karena itu, angka 60 persen lebih tepat digunakan sebagai patokan praktis, bukan jaminan mutlak. Jika audio sudah terdengar jelas tanpa perlu menaikkan volume, tidak ada alasan untuk membuatnya lebih keras.

Durasi Mendengarkan Sama Pentingnya dengan Besarnya Volume

Mengatur volume saja belum cukup. Waktu penggunaan juga perlu diperhatikan. James E. Foy, dokter yang dikutip American Osteopathic Association, pernah menyarankan pendekatan 60/60. Prinsipnya adalah mendengarkan dengan volume sekitar 60 persen selama total sekitar 60 menit sebelum memberikan waktu istirahat pada telinga. Namun, aturan tersebut sebaiknya dipahami sebagai cara sederhana untuk membangun kebiasaan mendengarkan yang lebih hati-hati. Prinsip yang lebih penting adalah hubungan antara intensitas dan durasi. Semakin keras suara, semakin pendek waktu paparan yang dapat ditoleransi. Karena itu, menggunakan headset berjam-jam dengan suara keras bukan kebiasaan yang ideal meskipun telinga belum terasa sakit.

Telinga Berdenging Bisa Menjadi Sinyal yang Jangan Diabaikan

Tubuh terkadang memberikan tanda setelah terpapar suara terlalu keras. Salah satu keluhan yang dapat muncul adalah telinga berdenging atau tinnitus. Selain itu, suara dapat terasa lebih redup setelah menggunakan headset. Sebagian orang juga mulai kesulitan memahami percakapan ketika berada di lingkungan ramai. Jika pengguna terus membutuhkan volume yang semakin tinggi untuk mendapatkan pengalaman mendengarkan yang sama, kondisi tersebut juga layak diperhatikan. Gejala seperti ini tidak sebaiknya dianggap sebagai konsekuensi normal memakai TWS. Apabila keluhan menetap, berulang, atau kemampuan mendengar terasa berubah, pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui penyebabnya. Terlebih lagi, gangguan pendengaran dapat berkembang secara bertahap sehingga perubahan awal terkadang tidak langsung disadari.

Lingkungan Bising Sering Membuat Volume Naik Tanpa Terasa

Naik transportasi umum atau berada di tempat ramai membuat suara dari TWS lebih sulit terdengar. Respons paling mudah biasanya adalah menaikkan volume. Namun, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan paparan suara ke telinga. Di sinilah fitur active noise cancellation atau ANC dapat membantu. Teknologi ini mengurangi sebagian suara lingkungan sehingga pengguna tidak selalu perlu menaikkan volume untuk mendengar konten dengan jelas. Meski demikian, ANC bukan perlindungan otomatis terhadap gangguan pendengaran. Pengguna tetap dapat mengatur suara terlalu keras meskipun fitur tersebut aktif. Karena itu, manfaat utamanya adalah membantu mempertahankan volume yang lebih rendah di lingkungan bising.

Baca Juga: Cara Memperpanjang Umur HP Android agar Tetap Lancar dan Awet

Istirahatkan Telinga jika Headset Digunakan Setiap Hari

Banyak orang harus menggunakan headset selama beberapa jam untuk bekerja atau mengikuti pertemuan daring. Dalam situasi tersebut, jeda menjadi kebiasaan yang berguna. Lepaskan perangkat secara berkala dan berikan waktu tanpa paparan audio langsung. Selain itu, hindari kebiasaan menaikkan volume setelah telinga mulai terbiasa dengan tingkat suara tertentu. Adaptasi sementara dapat membuat suara terasa kurang keras, padahal intensitasnya tidak berubah. Menurut saya, kebiasaan sederhana seperti ini lebih realistis daripada hanya menghafal satu angka batas volume. Pengguna perlu menggabungkan volume moderat, durasi yang masuk akal, dan waktu istirahat. Ketiganya dapat membantu membangun kebiasaan mendengarkan yang lebih bertanggung jawab.

Aplikasi Pengukur Suara Bisa Membantu, tetapi Ada Batasnya

Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pemantauan suara pada perangkat yang mendukungnya. Beberapa ponsel dan perangkat audio dapat memberikan informasi mengenai tingkat paparan suara. Aplikasi pengukur kebisingan juga tersedia pada iPhone maupun Android. Namun, pembacaan suara lingkungan dari mikrofon ponsel tidak selalu sama dengan tingkat suara yang benar-benar masuk melalui earphone. Karena itu, data dari aplikasi sebaiknya dipahami sesuai fungsi dan metode pengukurannya. Fitur pemantauan headphone yang terintegrasi dengan perangkat kompatibel dapat memberikan informasi yang lebih relevan untuk kebiasaan mendengarkan. Meski begitu, pengguna tetap perlu memperhatikan respons tubuh dan tidak hanya bergantung pada angka di layar.

Mendengarkan dengan Aman Tidak Berarti Harus Berhenti Pakai TWS

TWS dan headset tetap dapat menjadi perangkat yang nyaman untuk digunakan setiap hari. Kuncinya bukan menghindari teknologi tersebut, melainkan mengatur cara pemakaiannya. Volume tidak perlu selalu mendekati maksimal agar musik, film, atau podcast terasa menarik. Sebaliknya, tingkat suara yang moderat dan jeda teratur dapat memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih nyaman dalam jangka panjang. Jika berada di tempat bising, fitur noise cancelling dapat membantu mengurangi dorongan untuk menaikkan volume. Sementara itu, telinga berdenging, pendengaran terasa berkurang, atau kesulitan memahami percakapan sebaiknya tidak diabaikan. Pada akhirnya, kebiasaan kecil saat menggunakan TWS hari ini dapat berpengaruh pada kesehatan pendengaran di masa depan.