Benarkah Cacar Air Hanya Sekali Seumur Hidup dan Bisa Menular?

Benarkah Cacar Air Hanya Sekali Seumur Hidup dan Bisa Menular?

Jurna Core – Banyak orang mengenal cacar air sebagai penyakit yang hanya muncul sekali seumur hidup. Anggapan tersebut cukup beralasan, tetapi tidak sepenuhnya mutlak. Penyakit ini disebabkan oleh varicella-zoster virus atau VZV. Setelah infeksi pertama, tubuh biasanya membentuk respons kekebalan yang bertahan lama. Karena itu, kebanyakan orang tidak mengalami cacar air untuk kedua kalinya. Namun, kasus infeksi ulang tetap dapat terjadi meski relatif jarang. Selain itu, ruam pada episode pertama mungkin sebenarnya berasal dari penyakit lain yang terlihat mirip. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa pernah terkena cacar air sebelumnya. Jadi, pengalaman masa kecil saja belum selalu cukup untuk memastikan riwayat infeksi. Jika status kekebalan penting diketahui, misalnya karena kehamilan atau kondisi medis tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi pilihan yang lebih tepat.

Baca Juga: Kaki Terkilir Jangan Langsung Dipijat, Begini Penanganan yang Tepat

Virus Varicella-Zoster Menjadi Penyebab Utamanya

Penyebab cacar air bukan perubahan cuaca, makanan tertentu, atau kebiasaan mandi. Penyakit ini muncul akibat infeksi varicella-zoster virus. Setelah masuk ke tubuh, virus berkembang sebelum akhirnya memunculkan berbagai gejala. Pada awalnya, seseorang dapat mengalami demam, lelah, kehilangan nafsu makan, atau merasa kurang sehat. Selanjutnya, ruam mulai muncul dan berkembang menjadi lenting berisi cairan yang terasa gatal. Menariknya, ruam tidak selalu muncul secara bersamaan. Akibatnya, satu bagian tubuh dapat memiliki bintik baru, lenting, dan keropeng pada waktu yang sama. Pola tersebut menjadi salah satu karakteristik yang sering terlihat pada cacar air. Meski demikian, diagnosis sebaiknya tidak hanya berdasarkan tampilan kulit. Beberapa penyakit dapat menimbulkan keluhan serupa. Oleh sebab itu, pemeriksaan medis diperlukan jika gejalanya tidak khas, terasa berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki risiko komplikasi.

Cacar Air Sangat Mudah Menular ke Orang Lain

Selain menimbulkan ruam yang mengganggu, cacar air dikenal sangat mudah menyebar. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan orang yang sedang terinfeksi. Virus dapat menyebar melalui partikel pernapasan dan kontak langsung dengan cairan dari lenting. Karena itu, tinggal serumah dengan penderita dapat meningkatkan peluang terpapar pada orang yang belum memiliki kekebalan. Hal yang perlu diperhatikan adalah waktu penularannya. Seseorang dapat menularkan virus sekitar satu hingga dua hari sebelum ruam mulai terlihat. Dengan demikian, penularan mungkin sudah terjadi ketika penderita belum menyadari bahwa dirinya mengalami cacar air. Masa menular kemudian berlanjut sampai seluruh lenting mengering dan membentuk keropeng. Oleh sebab itu, penderita sebaiknya membatasi kontak dekat selama periode tersebut. Langkah ini menjadi semakin penting apabila terdapat anggota keluarga yang berisiko mengalami komplikasi serius.

Sudah Pernah Cacar Air, Bisakah Terkena untuk Kedua Kalinya?

Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak umum. Setelah mengalami cacar air, sistem kekebalan biasanya mengenali VZV dan memberikan perlindungan jangka panjang. Inilah alasan sebagian besar orang hanya mengalami penyakit tersebut sekali. Namun, perlindungan biologis tidak selalu identik pada setiap orang. Infeksi kedua dapat terjadi pada kondisi tertentu. Selain itu, ada kemungkinan penyakit yang dianggap sebagai cacar air pertama ternyata merupakan ruam akibat penyebab lain. Situasi semacam ini dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang terkena cacar air dua kali. Karena itu, ungkapan “pasti hanya sekali seumur hidup” terlalu mutlak jika digunakan sebagai aturan medis. Cara yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa infeksi kedua jarang terjadi pada orang yang sudah memiliki kekebalan. Jika seseorang kembali mengalami ruam mirip cacar air, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan apakah penyebabnya benar VZV atau kondisi kulit lainnya.

Virus Tidak Hilang Sepenuhnya Setelah Cacar Air Sembuh

Ada fakta menarik setelah cacar air menghilang dari kulit. Virus penyebabnya tidak benar-benar meninggalkan tubuh. Sebaliknya, VZV dapat tetap berada dalam keadaan tidak aktif di jaringan saraf. Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin tidak merasakan keluhan apa pun. Namun, virus dapat aktif kembali pada kemudian hari. Ketika hal tersebut terjadi, penyakit yang muncul biasanya bukan cacar air kedua, melainkan herpes zoster atau shingles. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut cacar ular. Herpes zoster umumnya menimbulkan ruam dan lenting pada area tertentu. Keluhan nyeri, terbakar, kesemutan, atau sensitif juga dapat menyertainya. Dengan demikian, cacar air dan herpes zoster berasal dari virus yang sama, tetapi muncul dalam fase berbeda. Fakta ini juga menjelaskan mengapa riwayat cacar air tetap relevan bertahun-tahun setelah ruam pertama sembuh.

Herpes Zoster Juga Bisa Menularkan Virus kepada Orang Lain

Seseorang yang mengalami herpes zoster dapat menjadi sumber penularan VZV dalam kondisi tertentu. Namun, ada perbedaan penting yang sering membuat masyarakat salah memahami situasi ini. Orang yang belum kebal terhadap VZV dapat tertular setelah kontak dengan cairan dari lenting herpes zoster. Jika tertular, orang tersebut akan mengalami cacar air, bukan langsung mengalami herpes zoster. Setelah infeksi cacar air terjadi, virus kemudian dapat menetap di tubuh dan mungkin aktif kembali bertahun-tahun kemudian. Karena itu, lenting herpes zoster sebaiknya ditutup dan kontak langsung perlu dihindari sampai lesi mengering. Perhatian ekstra diperlukan ketika berada di sekitar orang yang rentan. Selain menjaga kebersihan tangan, penderita sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai aktivitas selama masa penyakit. Memahami perbedaan pola penularan ini penting agar istilah cacar air dan cacar ular tidak digunakan secara bergantian.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati terhadap Penularannya?

Pada banyak anak sehat, cacar air dapat berlangsung ringan dan sembuh tanpa masalah serius. Namun, kondisi berbeda dapat terjadi pada kelompok tertentu. Orang dewasa yang belum memiliki kekebalan berpotensi mengalami penyakit yang lebih berat dibandingkan anak-anak. Selain itu, ibu hamil yang belum kebal, bayi baru lahir, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah membutuhkan perhatian khusus. Komplikasi dapat melibatkan infeksi kulit, paru-paru, atau sistem saraf pada sebagian kasus. Oleh karena itu, kelompok berisiko sebaiknya tidak menganggap cacar air sebagai penyakit kulit biasa. Jika terjadi paparan, terutama pada ibu hamil atau orang dengan gangguan kekebalan, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan. Penanganan yang tepat bergantung pada usia, riwayat kekebalan, kondisi kesehatan, serta waktu sejak paparan. Dengan begitu, keputusan medis dapat dibuat berdasarkan risiko masing-masing individu dan bukan hanya berdasarkan pengalaman orang lain.

Baca Juga: 7 Tips Ikut Race Lari Pertama agar Tak Kewalahan

Menggaruk Lenting Bisa Meningkatkan Risiko Masalah Kulit

Rasa gatal sering menjadi salah satu bagian paling tidak nyaman dari cacar air. Dorongan untuk menggaruk memang sulit dihindari, terutama pada anak-anak. Namun, garukan dapat melukai kulit dan meningkatkan risiko infeksi bakteri. Selain itu, luka yang berulang berpotensi meninggalkan bekas yang lebih terlihat. Karena itu, menjaga kuku tetap pendek dan bersih dapat membantu mengurangi kerusakan kulit akibat garukan. Pakaian yang longgar juga dapat membuat kulit terasa lebih nyaman. Sementara itu, beberapa cara untuk meredakan gatal dapat dipertimbangkan sesuai usia dan kondisi penderita. Sebaiknya tanyakan kepada dokter atau apoteker mengenai obat yang aman digunakan. Khusus pada anak-anak dan remaja dengan cacar air, jangan memberikan aspirin tanpa arahan medis karena terdapat risiko komplikasi serius. Jika lenting tampak semakin merah, terasa sangat nyeri, mengeluarkan cairan seperti nanah, atau disertai kondisi tubuh yang memburuk, pemeriksaan medis diperlukan.

Vaksin Membantu Mengurangi Risiko Cacar Air dan Penyakit Berat

Vaksinasi menjadi salah satu cara penting untuk memberikan perlindungan terhadap cacar air. Vaksin varisela membantu sistem kekebalan mengenali virus tanpa harus mengalami infeksi alami terlebih dahulu. Perlindungannya memang tidak berarti setiap orang pasti terbebas dari infeksi. Namun, vaksin dapat menurunkan risiko terkena penyakit serta membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat. Jadwal dan kebutuhan vaksin dapat berbeda berdasarkan usia, riwayat vaksinasi, kondisi kesehatan, serta pedoman imunisasi yang berlaku. Karena itu, konsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan dapat membantu menentukan kebutuhan masing-masing orang. Vaksinasi menjadi semakin relevan bagi mereka yang belum pernah mengalami cacar dan belum mendapatkan imunisasi. Namun, tidak semua orang dapat menerima vaksin dalam setiap kondisi. Ibu hamil dan orang dengan gangguan kekebalan tertentu, misalnya, perlu mendapatkan penilaian medis terlebih dahulu. Dengan demikian, keputusan vaksinasi sebaiknya mempertimbangkan kondisi individu.

Jadi, Cacar Air Sekali Seumur Hidup Itu Mitos atau Fakta?

Ungkapan bahwa cacar air hanya terjadi sekali seumur hidup sebenarnya memiliki dasar, tetapi perlu dipahami dengan tepat. Kebanyakan orang memang mendapatkan kekebalan jangka panjang setelah infeksi pertama. Oleh sebab itu, kejadian kedua relatif jarang. Namun, kemungkinan tersebut tidak benar-benar nol. Hal yang lebih penting adalah memahami bahwa VZV tetap berada di dalam tubuh setelah seseorang sembuh. Bertahun-tahun kemudian, virus dapat aktif kembali sebagai herpes zoster. Sementara itu, orang yang sedang mengalami cacar tetap dapat menularkan virus kepada mereka yang belum memiliki kekebalan. Jadi, pernah mendengar bahwa penyakit ini “cukup sekali” bukan alasan untuk mengabaikan pencegahan penularan. Menurut saya, memahami mekanisme virus jauh lebih berguna daripada hanya berpegang pada mitos turun-temurun. Dengan informasi yang tepat, masyarakat dapat mengenali risiko, melindungi orang rentan, dan mengetahui kapan perlu mencari pertolongan medis.