Detak Jantung Tidak Teratur Bisa Jadi Tanda Fibrilasi Atrium, Kenali Gejalanya
Jurna Core – Detak jantung yang terasa tidak beraturan terkadang dianggap sebagai keluhan sementara. Padahal, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF). Gejala fibrilasi atrium dapat berbeda pada setiap orang. Sebagian orang merasakan jantung berdebar, cepat lelah, atau sesak napas. Namun, ada pula yang tidak merasakan keluhan sama sekali. Fibrilasi atrium terjadi ketika aktivitas listrik pada ruang atas jantung menjadi tidak teratur sehingga denyut jantung ikut berubah. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi, terutama stroke. Meski risiko AF meningkat seiring bertambahnya usia, faktor lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, gangguan jantung, dan sleep apnea juga dapat berperan. Karena itu, mengenali perubahan pada detak jantung menjadi langkah awal yang penting, terutama bagi orang dengan faktor risiko.
Gejala Fibrilasi Atrium Bisa Berbeda pada Setiap Orang
Tidak semua orang dengan fibrilasi atrium mengalami keluhan yang sama. Salah satu tanda yang dapat muncul adalah sensasi jantung berdebar atau denyut yang terasa tidak teratur. Selain itu, sebagian orang merasa lebih cepat lelah saat melakukan aktivitas yang biasanya dapat dijalani dengan mudah. Sesak napas dan menurunnya kemampuan beraktivitas juga dapat terjadi. Namun, gejala tersebut tidak khusus untuk fibrilasi atrium. Keluhan serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi lain. Oleh sebab itu, keberadaan satu gejala saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan medis, termasuk evaluasi irama jantung, diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa perubahan detak jantung yang menetap atau sering berulang sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan sensasi yang dirasakan.
Detak Jantung Tidak Teratur Menjadi Salah Satu Tanda
Jantung normalnya berdetak melalui sistem listrik yang bekerja secara terkoordinasi. Pada fibrilasi atrium, sinyal listrik di ruang atas jantung atau atrium menjadi tidak teratur. Akibatnya, koordinasi antara atrium dan ruang bawah jantung dapat terganggu. Seseorang mungkin kemudian merasakan denyut yang tidak konsisten, berdebar, atau terasa lebih cepat dari biasanya. Akan tetapi, perubahan irama tersebut tidak selalu dapat dirasakan dengan jelas. Beberapa orang baru mengetahui adanya AF setelah menjalani pemeriksaan untuk keperluan lain. Karena itu, pemeriksaan denyut atau elektrokardiogram dapat menjadi bagian dari proses diagnosis ketika dokter mencurigai adanya gangguan irama. Dengan kata lain, gejala fibrilasi atrium memberikan petunjuk awal, tetapi diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan yang sesuai.
Sebagian Orang Tidak Mengalami Gejala Apa Pun
Salah satu tantangan dalam mengenali fibrilasi atrium adalah kemungkinan tidak munculnya keluhan. Seseorang dapat menjalani aktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa irama jantungnya mengalami gangguan. Kondisi semacam ini sering disebut AF asimtomatik. Akibatnya, gangguan tersebut terkadang baru diketahui saat pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika dilakukan pemeriksaan jantung untuk alasan berbeda. Tidak adanya gejala juga tidak selalu berarti kondisi tersebut dapat diabaikan. Risiko komplikasi dinilai berdasarkan sejumlah faktor kesehatan, bukan hanya berdasarkan ada atau tidaknya keluhan. Oleh sebab itu, orang dengan faktor risiko tertentu dapat memerlukan evaluasi lebih lanjut sesuai penilaian dokter. Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin memiliki nilai penting, khususnya ketika usia bertambah atau terdapat riwayat penyakit kardiovaskular.
Baca Juga: Makan Lele Baik untuk Tubuh? Kenali 7 Manfaat dan Risikonya
Risiko Fibrilasi Atrium Meningkat Seiring Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang berkaitan erat dengan fibrilasi atrium. Dalam materi yang diberikan, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular Simon Salim merujuk Studi Framingham dan menjelaskan bahwa risiko AF meningkat seiring bertambahnya usia. Hampir 10 persen orang yang mencapai usia 80 tahun disebut dapat mengalami kondisi tersebut. Meski demikian, usia bukan satu-satunya faktor. Tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, dan penyakit jantung struktural juga dapat meningkatkan risiko. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea serta konsumsi alkohol turut dikaitkan dengan AF. Artinya, profil risiko setiap orang dapat berbeda. Seseorang yang lebih muda tetap dapat mengalami gangguan irama jantung, terutama apabila memiliki faktor risiko tertentu. Karena itu, perubahan denyut jantung yang tidak biasa sebaiknya dinilai berdasarkan kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Mudah Lelah dan Sesak Napas Perlu Diperhatikan
Selain jantung berdebar, mudah lelah termasuk gejala fibrilasi atrium yang dapat dirasakan sebagian pasien. Keluhan tersebut dapat menjadi lebih jelas ketika seseorang melakukan aktivitas fisik. Ada pula yang mengalami sesak napas atau merasa kemampuan beraktivitasnya menurun dibanding biasanya. Namun, keluhan seperti ini memiliki banyak kemungkinan penyebab. Kurang tidur, anemia, gangguan paru, kondisi metabolik, hingga penyakit jantung lain dapat menimbulkan gejala serupa. Oleh sebab itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa rasa lelah atau sesak merupakan AF. Yang perlu diperhatikan adalah pola perubahan gejalanya. Keluhan yang baru muncul, sering berulang, atau semakin mengganggu aktivitas dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan membantu dokter mencari penyebab sekaligus menentukan apakah gangguan irama jantung memang terlibat.
Fibrilasi Atrium Berkaitan dengan Risiko Stroke
Fibrilasi atrium mendapatkan perhatian khusus karena berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Ketika atrium tidak berkontraksi secara terkoordinasi, darah dapat mengalami perlambatan aliran di bagian tertentu dari jantung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya bekuan darah pada pasien tertentu. Jika bekuan terlepas dan terbawa menuju otak, pembuluh darah dapat tersumbat dan menyebabkan stroke iskemik. Namun, tingkat risiko tidak sama pada semua pasien. Dokter biasanya mempertimbangkan usia serta kondisi kesehatan lain sebelum menentukan strategi pencegahan. Karena itu, diagnosis AF tidak otomatis berarti setiap pasien akan mengalami stroke. Sebaliknya, hubungan tersebut menjadi alasan mengapa fibrilasi atrium perlu dinilai dan ditangani secara tepat. Pencegahan komplikasi menjadi salah satu tujuan penting dalam perawatan jangka panjang.
Pemeriksaan Irama Jantung Membantu Memastikan Diagnosis
Mengenali gejala merupakan langkah awal, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk memastikan fibrilasi atrium. Salah satu pemeriksaan yang umum digunakan adalah elektrokardiogram atau EKG, yang merekam aktivitas listrik jantung. Pada kondisi tertentu, gangguan irama dapat muncul dan menghilang sehingga tidak selalu tertangkap dalam pemeriksaan singkat. Dokter kemudian dapat mempertimbangkan pemantauan irama dalam periode lebih panjang sesuai kebutuhan pasien. Selain itu, pemeriksaan lain mungkin diperlukan untuk mencari kondisi yang berkaitan dengan gangguan irama. Pendekatan ini penting karena sensasi berdebar tidak selalu disebabkan oleh fibrilasi atrium. Sebaliknya, AF juga dapat muncul tanpa sensasi berdebar. Dengan demikian, diagnosis sebaiknya tidak hanya mengandalkan gejala fibrilasi atrium, tetapi juga bukti objektif dari pemeriksaan medis.
Mengenali Faktor Risiko Sama Pentingnya dengan Gejala
Perhatian terhadap fibrilasi atrium tidak seharusnya berhenti pada detak jantung. Faktor risiko juga memberikan gambaran penting. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, misalnya, dapat memberikan beban tambahan pada jantung dalam jangka panjang. Diabetes dan obesitas juga berkaitan dengan perubahan kardiovaskular yang dapat meningkatkan risiko gangguan irama. Sementara itu, sleep apnea dapat menyebabkan gangguan pernapasan berulang ketika tidur dan berhubungan dengan masalah kardiovaskular. Karena faktor tersebut sering muncul bersamaan, pengelolaan kesehatan secara menyeluruh menjadi penting. Menjaga tekanan darah, mengelola berat badan, serta mengikuti pengobatan penyakit yang sudah terdiagnosis dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan jantung. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda sehingga keputusan pengobatan tetap perlu disesuaikan melalui evaluasi tenaga kesehatan.
Kapan Keluhan Jantung Perlu Segera Diperiksa?
Jantung berdebar sesaat tidak selalu menunjukkan kondisi berbahaya. Namun, pemeriksaan medis layak dipertimbangkan apabila denyut tidak teratur muncul berulang, berlangsung lama, atau disertai penurunan kemampuan beraktivitas. Sementara itu, pertolongan medis segera diperlukan apabila muncul tanda darurat, seperti nyeri dada berat, kesulitan bernapas yang signifikan, kehilangan kesadaran, atau gejala stroke. Tanda stroke dapat berupa wajah mendadak tidak simetris, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, serta gangguan bicara yang muncul tiba-tiba. Dalam situasi tersebut, jangan menunggu keluhan hilang sendiri. Pada akhirnya, memahami gejala fibrilasi atrium bukan bertujuan untuk melakukan diagnosis mandiri. Pengetahuan tersebut membantu seseorang mengenali perubahan tubuh dan mengetahui kapan evaluasi medis mungkin diperlukan.
