Di Balik Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Ada Pesan untuk Istana

Di Balik Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Ada Pesan untuk Istana

Jurna Core – Aksi Greenpeace di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, mencuri perhatian setelah enam aktivis memanjat Monumen Patung Selamat Datang pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dari atas monumen, mereka membentangkan dua spanduk besar dengan arah berbeda. Namun, pemandangan yang kemudian ramai dibicarakan itu bukan aksi spontan. Greenpeace Indonesia menyebut persiapan telah dilakukan selama berbulan-bulan. Aktivis menjalani latihan, mempelajari medan, serta menyiapkan perlengkapan keselamatan. Selain itu, organisasi tersebut menyiapkan dukungan medis dan pendampingan hukum. Social & Economic Campaign Team Leader Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa pesan mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Bundaran HI pun dipilih bukan hanya karena lokasinya strategis. Menurut Greenpeace, arah spanduk juga dirancang untuk membawa pesan simbolis kepada pemerintah dan masyarakat.

Baca Juga: TNI AL Cegat Dua Kapal, Ribuan Kubik Kayu Diamankan di Pulau Buru

Aksi Greenpeace Mengubah Bundaran HI Menjadi Panggung Kampanye

Bundaran HI biasanya menjadi salah satu pusat aktivitas Jakarta. Namun, pada hari itu, perhatian publik mengarah ke bagian atas Monumen Patung Selamat Datang. Enam aktivis berada di sana sambil membentangkan spanduk berukuran besar. Dokumentasi aksi kemudian menyebar melalui media sosial. Bagi Greenpeace, pendekatan visual seperti ini bukan hal baru. Organisasi tersebut telah menggunakan pembentangan spanduk dalam sejumlah kampanye sebelumnya. Strategi tersebut memiliki karakter yang mudah dikenali. Pesan ditempatkan pada lokasi yang memiliki visibilitas tinggi sehingga cepat mendapat perhatian. Meski demikian, perhatian publik hanya menjadi pintu masuk. Greenpeace ingin percakapan bergerak menuju persoalan yang mereka angkat. Dalam aksi kali ini, isu lingkungan dikaitkan dengan tekanan ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Bundaran HI tidak hanya menjadi lokasi demonstrasi. Ruang kota itu berubah menjadi panggung komunikasi yang mempertemukan isu lingkungan, kebijakan, dan perhatian masyarakat.

Dua Spanduk Dibuat untuk Menyampaikan Pesan Berbeda

Ada alasan di balik penggunaan dua spanduk dalam Aksi Greenpeace tersebut. Menurut Atha, masing-masing spanduk diarahkan kepada sasaran simbolis yang berbeda. Satu spanduk menghadap ke utara. Greenpeace memaknainya sebagai pesan yang ingin disampaikan kepada pemerintah dan Istana. Sementara itu, spanduk lainnya menghadap ke selatan. Pesan tersebut, menurut Atha, mewakili keresahan masyarakat mengenai kondisi kehidupan dan respons pemerintah. Pemilihan arah itu membuat aksi memiliki lapisan simbolis yang lebih kuat. Greenpeace tidak sekadar mencari tempat tinggi untuk memasang pesan. Mereka juga memanfaatkan posisi geografis Bundaran HI untuk membangun narasi kampanye. Pendekatan seperti ini membuat visual aksi lebih mudah diingat. Namun, substansi pesan tetap menjadi bagian yang lebih penting. Di balik dua spanduk tersebut, Greenpeace ingin menghubungkan isu krisis iklim dengan persoalan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Krisis Iklim Dibawa Lebih Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

Greenpeace mengatakan aksi tersebut berkaitan dengan temuan dalam laporan terbaru mereka. Menurut Atha, organisasi itu melihat hubungan antara dampak krisis iklim dan sejumlah tekanan sosial ekonomi. Cuaca yang semakin sulit diprediksi serta periode kekeringan menjadi beberapa persoalan yang mereka soroti. Dampaknya, menurut Greenpeace, dapat bersinggungan dengan harga pangan, produktivitas, pendapatan, dan transportasi. Sudut pandang ini membawa isu iklim keluar dari pembahasan yang hanya berfokus pada perubahan suhu. Bagi masyarakat, dampak yang terasa pada kebutuhan sehari-hari tentu lebih mudah dipahami. Namun, hubungan antara perubahan iklim dan kondisi ekonomi memiliki banyak faktor. Dampaknya dapat berbeda menurut wilayah, sektor, dan kondisi masyarakat. Karena itu, data serta konteks tetap penting ketika membahasnya. Meski demikian, Greenpeace menggunakan aksi visual tersebut untuk membuka percakapan. Mereka ingin publik melihat bahwa persoalan lingkungan dapat memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Isu Karhutla Ikut Disuarakan dari Jantung Jakarta

Selain krisis iklim, Greenpeace turut menyinggung kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Menurut Atha, persoalan lingkungan yang berulang menjadi salah satu keresahan yang ingin mereka bawa melalui aksi tersebut. Karhutla memiliki dampak yang dapat meluas dari lokasi kebakaran. Gangguan kualitas udara, kerusakan ekosistem, dan aktivitas ekonomi dapat menjadi bagian dari konsekuensinya. Oleh karena itu, Greenpeace menempatkan isu tersebut bersama pesan mengenai krisis iklim. Namun, sebuah spanduk tentu tidak dapat menjelaskan persoalan lingkungan secara menyeluruh. Inilah fungsi aksi visual dalam strategi kampanye. Pesan dibuat singkat agar menarik perhatian terlebih dahulu. Setelah itu, diskusi diharapkan bergerak menuju substansi yang lebih dalam. Dari perspektif komunikasi publik, pendekatan tersebut memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan. Visual dapat menyebar dengan cepat, tetapi pemahaman terhadap masalah tetap membutuhkan data, penjelasan, dan diskusi lanjutan.

Latihan Berbulan-bulan Berlangsung Sebelum Aktivis Memanjat

Salah satu pertanyaan yang muncul setelah Aksi Greenpeace berlangsung adalah bagaimana para aktivis mempersiapkan pemanjatan. Atha tidak menjelaskan strategi teknis secara rinci. Namun, ia menyebut para aktivis dan relawan telah melakukan persiapan selama berbulan-bulan. Mereka yang terlibat disebut memiliki keterampilan pemanjatan dan menjalani latihan secara rutin. Kondisi fisik juga menjadi perhatian sebelum aksi dilakukan. Selain itu, tim mempelajari karakter lokasi untuk mengurangi risiko selama berada di atas monumen. Persiapan panjang tersebut menunjukkan bahwa aksi tidak dibuat secara mendadak. Aktivitas di ketinggian memiliki risiko yang serius. Oleh sebab itu, kemampuan personel dan kesiapan peralatan menjadi faktor penting. Greenpeace juga menyebut aksi pembentangan spanduk sebagai salah satu bentuk kampanye yang telah mereka gunakan sebelumnya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari persiapan untuk aksi di pusat Jakarta ini.

Keselamatan Menjadi Bagian Penting dari Perencanaan

Menurut Atha, perlengkapan yang digunakan dalam aksi telah diperhitungkan sesuai kebutuhan. Greenpeace juga menyebut medan telah dipelajari sebelum aktivis naik ke monumen. Tujuannya adalah mengurangi risiko selama kegiatan berlangsung. Aspek ini penting karena pemanjatan dilakukan di tempat tinggi dan berada di kawasan publik yang ramai. Kesalahan dapat membahayakan peserta maupun orang di sekitar. Karena itu, kegiatan semacam ini membutuhkan kemampuan teknis dan prosedur keselamatan. Meski persiapan telah dilakukan, aktivitas di ketinggian tetap memiliki risiko yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Kondisi fisik, cuaca, peralatan, serta perubahan situasi di lapangan dapat memengaruhi keselamatan. Dari sisi kampanye, perencanaan tersebut juga memperlihatkan kompleksitas di balik visual yang terlihat sederhana. Publik hanya melihat spanduk terbentang. Namun, menurut Greenpeace, ada proses latihan dan perhitungan yang berlangsung jauh sebelum aksi dimulai.

Cerita Proses Turun Memunculkan Dua Keterangan Berbeda

Proses penurunan aktivis kemudian ikut menjadi perhatian. Sebelumnya, muncul keterangan dari pihak kepolisian bahwa aktivis membutuhkan bantuan setelah berada di atas monumen. Greenpeace memberikan penjelasan berbeda. Atha mengatakan timnya telah menyiapkan personel penyelamat atau rescuer untuk membantu aktivis turun setelah aksi selesai. Petugas pemadam kebakaran kemudian ikut membantu proses tersebut. Greenpeace menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Perbedaan keterangan dari pihak yang terlibat penting untuk tetap ditampilkan secara proporsional. Dengan cara itu, pembaca dapat memahami bahwa terdapat perspektif berbeda mengenai proses di lapangan. Pada akhirnya, para aktivis berhasil turun dari monumen. Greenpeace juga menyatakan bahwa keputusan mengakhiri aksi dibuat setelah mempertimbangkan perkembangan situasi. Menurut mereka, pesan kampanye saat itu telah mendapat perhatian luas sehingga aksi tidak perlu dipertahankan lebih lama.

Situasi di Lapangan Ikut Mendorong Aksi Diakhiri

Greenpeace menyebut keselamatan menjadi salah satu pertimbangan ketika memutuskan mengakhiri aksi. Atha mengatakan timnya melihat aparat mulai berusaha mencapai bagian monumen. Menurut penilaiannya, kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko tambahan. Pada saat bersamaan, dokumentasi Aksi Greenpeace sudah beredar luas melalui media sosial. Pesan yang dibawa juga dinilai telah memperoleh perhatian publik. Karena itu, organisasi tersebut memilih menyelesaikan aksi. Situasi ini menunjukkan bahwa kampanye langsung di ruang publik membutuhkan keputusan yang fleksibel. Rencana awal dapat berubah ketika kondisi lapangan berkembang. Penyelenggara harus menilai manfaat melanjutkan aksi sekaligus mempertimbangkan risiko yang muncul. Dalam kasus Bundaran HI, Greenpeace menyatakan perhatian yang diperoleh sudah cukup untuk membawa pesan mereka ke ruang publik. Keputusan turun kemudian menjadi penutup dari fase utama aksi tersebut.

Baca Juga: Gempa Terkini Lebong M5,2 Terasa hingga Bengkulu Curup dan Arga Makmur

Tim Medis dan Pendamping Hukum Sudah Disiapkan

Persiapan Greenpeace tidak hanya berfokus pada pemanjatan. Menurut Atha, organisasi tersebut juga menyiapkan tim medis dan ambulans untuk menghadapi kemungkinan keadaan darurat. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan Tim Advokasi untuk Demokrasi atau TAUD untuk memberikan pendampingan hukum. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Greenpeace telah memperhitungkan berbagai kemungkinan setelah aksi berlangsung. Setelah turun, keenam aktivis dibawa aparat untuk menjalani pemeriksaan dan pendataan. Atha kemudian mempertanyakan durasi proses tersebut. Berdasarkan keterangan dalam bahan yang tersedia, enam aktivis akhirnya dibebaskan tanpa dijerat pidana dan tidak dinyatakan melanggar ketentuan cagar budaya. Proses setelah aksi ini menjadi bagian penting dari keseluruhan cerita. Kampanye di ruang publik tidak selalu selesai ketika spanduk diturunkan. Ada aspek keselamatan, administrasi, dan hukum yang juga harus dihadapi oleh peserta aksi.

Viralitas Bukan Tujuan Akhir Aksi Greenpeace

Perhatian besar di media sosial membantu memperluas jangkauan pesan yang dibawa Greenpeace. Foto dan video dari Bundaran HI membuat aksi tersebut dibicarakan lebih luas. Namun, Atha menegaskan bahwa viralitas bukan tujuan akhir. Greenpeace berharap perhatian publik dapat berkembang menjadi pembahasan mengenai kebijakan iklim dan persoalan sosial ekonomi. Tantangannya tentu tidak sederhana. Sebuah aksi visual dapat menjadi viral dalam hitungan jam, sementara perubahan kebijakan membutuhkan proses panjang. Pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan masyarakat memiliki sudut pandang berbeda dalam membahas kebijakan lingkungan. Karena itu, Aksi Greenpeace di Bundaran HI lebih tepat dilihat sebagai salah satu upaya membuka percakapan. Dampak sebenarnya baru dapat dinilai apabila perhatian tersebut berkembang menjadi diskusi substantif dan respons kebijakan. Dari sudut komunikasi, viralitas membuka pintu. Namun, perubahan sistemik membutuhkan langkah yang jauh lebih panjang.

Pesan untuk Istana Menjadi Simbol Penutup Aksi

Pada akhirnya, aksi di Monumen Patung Selamat Datang memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat digunakan untuk menyampaikan pesan politik dan lingkungan. Greenpeace memadukan lokasi ikonik, dua spanduk, serta aksi pemanjatan untuk menarik perhatian. Di baliknya, organisasi tersebut menyebut ada latihan berbulan-bulan, persiapan keselamatan, dukungan medis, serta pendampingan hukum. Pesan yang mereka bawa juga dibuat lebih luas dari isu lingkungan semata. Krisis iklim dikaitkan dengan pangan, produktivitas, pendapatan, transportasi, dan keresahan masyarakat. Sementara itu, spanduk yang menghadap utara menjadi simbol pesan yang ingin diarahkan menuju pemerintah dan Istana. Apakah aksi tersebut akan menghasilkan perubahan kebijakan tentu belum dapat disimpulkan hanya dari besarnya perhatian publik. Namun, Aksi Greenpeace berhasil membuat isu yang mereka bawa masuk ke ruang percakapan yang lebih luas. Bagi Greenpeace, tantangan berikutnya adalah memastikan pembicaraan tersebut tidak berhenti setelah perhatian publik mereda.