Perjalanan Terakhir Guruh Soekarnoputra, Dimakamkan di Samping Fatmawati

Perjalanan Terakhir Guruh Soekarnoputra, Dimakamkan di Samping Fatmawati

Jurna Core – Perjalanan terakhir Guruh Soekarnoputra menuju tempat peristirahatan terakhir dimulai dari rumah duka pada Sabtu, 26 September 2026. Menjelang siang, keluarga dan para pelayat berkumpul untuk melepas kepergiannya. Sekitar pukul 12.57 WIB, peti jenazah dibawa keluar menuju mobil jenazah. Kain Merah Putih menutupi peti, sementara rangkaian bunga menghiasi bagian atasnya. Keluarga berdiri di sekitar pintu rumah dan mengikuti proses tersebut dalam suasana hening. Setelah prosesi pelepasan selesai, jenazah kemudian diberangkatkan menuju TPU Karet Bivak di Jakarta Pusat. Di lokasi tersebut, Guruh direncanakan dimakamkan di samping makam ibundanya, Fatmawati. Momen itu menjadi bagian yang emosional bagi keluarga. Perjalanan dari rumah duka menuju pemakaman bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga menjadi penghormatan terakhir kepada sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam seni dan budaya Indonesia.

Baca Juga: SBY hingga JK Datang Melayat, Rumah Duka Guruh Soekarnoputra

Kain Merah Putih Menyelimuti Peti dalam Prosesi Pelepasan

Salah satu pemandangan yang paling menonjol dalam prosesi tersebut adalah kain Merah Putih yang menyelimuti peti jenazah. Rangkaian bunga juga menyertai peti ketika dibawa menuju kendaraan. Sementara itu, keluarga dan pelayat memberikan ruang bagi prosesi untuk berjalan dengan tenang. Tidak diperlukan banyak kata untuk menggambarkan suasana saat itu. Keheningan menjadi bahasa tersendiri dalam melepas seseorang yang memiliki tempat penting bagi keluarga dan banyak orang. Setelah peti ditempatkan di mobil jenazah, perjalanan terakhir menuju TPU Karet Bivak pun dimulai. Prosesi tersebut sekaligus menandai berakhirnya rangkaian penghormatan di rumah duka. Namun, bagi keluarga, perjalanan menuju pemakaman tentu memiliki makna yang jauh lebih personal. Mereka mengiringi Guruh menuju tempat yang telah dipersiapkan di dekat makam sang ibu, Fatmawati.

Guruh Soekarnoputra Berpulang pada Usia 73 Tahun

Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun. Ia meninggal di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, sekitar pukul 04.16 WIB pada Sabtu pagi. Sebelum meninggal, Guruh dilaporkan telah sakit dan menjalani perawatan selama sekitar dua pekan. Namun, informasi publik yang tersedia saat itu tidak menjelaskan secara spesifik penyakit yang dideritanya. Jenazah kemudian tiba di rumah duka sekitar pukul 07.41 WIB. Sejak pagi, suasana duka mulai terasa ketika keluarga dan orang-orang terdekat memberikan penghormatan terakhir. Beberapa jam kemudian, rangkaian perjalanan terakhir Guruh dilanjutkan menuju pemakaman. Kabar kepergiannya juga menghadirkan duka di kalangan orang-orang yang mengenal kiprahnya. Guruh bukan hanya dikenal melalui keluarga besarnya. Selama puluhan tahun, ia membangun identitas tersendiri melalui musik, tari, koreografi, serta berbagai gagasan kebudayaan.

TPU Karet Bivak Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir

TPU Karet Bivak di Jakarta Pusat menjadi tujuan akhir iring-iringan jenazah. Lokasi tersebut memiliki arti khusus karena Guruh direncanakan dimakamkan di samping makam ibundanya, Fatmawati. Karena itu, pemilihan tempat pemakaman menghadirkan dimensi keluarga yang kuat dalam prosesi tersebut. Setelah meninggalkan rumah duka, kendaraan jenazah membawa Guruh menuju lokasi pemakaman bersama keluarga dan pengiring. Perjalanan terakhir itu menjadi momen ketika duka keluarga bertemu dengan kenangan terhadap perjalanan hidupnya. Bagi masyarakat, TPU Karet Bivak dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman penting di Jakarta. Namun, bagi keluarga Guruh, tempat tersebut kini memiliki arti yang lebih pribadi. Di sanalah ia akan beristirahat dekat dengan sang ibu. Kedekatan lokasi makam tersebut membuat momen pemakaman terasa seperti pertemuan simbolis antara anak dan ibu setelah perjalanan hidup yang panjang.

Jejak Seni Guruh Membentuk Identitasnya Sendiri

Di luar latar belakang keluarganya, Guruh membangun jejak panjang sebagai seniman dan pencipta karya. Salah satu bagian penting dalam perjalanannya muncul melalui proyek Guruh Gipsy pada dekade 1970-an. Proyek tersebut mempertemukan unsur rock progresif dengan gamelan Bali dan menjadi salah satu eksperimen penting dalam perkembangan musik Indonesia. Selain itu, Guruh mendirikan Swara Maharddhika dan mengembangkan pertunjukan yang memadukan tari, musik, koreografi, serta unsur budaya Nusantara. Sejumlah lagu ciptaannya juga bertahan melintasi generasi. Karya seperti “Zamrud Khatulistiwa”, “Lenggang Puspita”, dan “Kala Cinta Menggoda” terus dikenal dalam perjalanan musik populer Indonesia. Oleh sebab itu, perjalanan terakhir Guruh tidak hanya membawa duka keluarga. Kepergiannya turut mengingatkan publik pada warisan karya yang telah dibangun selama puluhan tahun dan terus menemukan pendengar baru.

Dunia Hiburan Turut Mengenang Sosok Guruh

Kabar meninggalnya Guruh juga memunculkan ungkapan duka dari sejumlah pekerja seni. Beberapa musisi mengenangnya sebagai figur yang memberi pengaruh dalam perjalanan mereka. Memes, misalnya, mengenang pengalaman ketika menjadi bagian dari Swara Maharddhika dan belajar tentang tari, musik, budaya, serta disiplin. Reza Artamevia juga menyoroti karya-karya Guruh dan kenangan terhadap perjalanan panjang sang seniman. Sementara itu, Melly Goeslaw menyampaikan penghormatan atas dedikasinya melalui seni. Respons tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Guruh tidak berhenti pada karya yang dapat didengar atau ditonton. Ada pengalaman personal yang turut diwariskan kepada generasi seniman setelahnya. Karena itu, perjalanan terakhir Guruh memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Keluarga kehilangan orang terdekat, sedangkan dunia seni kehilangan figur yang ikut membentuk warna pertunjukan dan musik Indonesia selama beberapa dekade.

Baca Juga: Ortu Cek Instagram, Kasus ABG Diduga Disekap 5 Hari di Jaktim Terungkap

Kedekatan dengan Fatmawati Memberi Makna Emosional pada Pemakaman

Rencana pemakaman Guruh di samping Fatmawati memberikan lapisan emosional pada prosesi tersebut. Fatmawati memiliki tempat penting dalam sejarah Indonesia sekaligus kehidupan keluarga Guruh. Karena itu, lokasi makam bukan hanya persoalan administratif. Bagi keluarga, kedekatan tersebut dapat menjadi simbol ikatan yang tetap bertahan setelah kepergian seseorang. Ketika iring-iringan meninggalkan rumah duka, tujuan akhirnya sudah memiliki makna tersendiri. Perjalanan terakhir Guruh akan berakhir di dekat sosok yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sejak awal. Di sisi lain, momen tersebut juga menghubungkan cerita keluarga dengan ingatan publik terhadap sejarah Indonesia. Namun, suasana pemakaman tetaplah sebuah peristiwa keluarga yang penuh kehilangan. Di balik nama besar dan perhatian masyarakat, ada keluarga yang harus mengucapkan selamat tinggal. Hal sederhana itulah yang membuat prosesi tersebut terasa dekat secara manusiawi.

Perjalanan Terakhir Menjadi Ruang untuk Mengenang Karya

Kepergian seorang seniman sering membuat publik kembali melihat karya yang pernah ditinggalkannya. Hal serupa terjadi ketika kabar meninggalnya Guruh tersebar. Lagu, pertunjukan, koreografi, serta kontribusinya terhadap kebudayaan kembali menjadi bagian dari percakapan. Dari sudut pandang budaya, warisan semacam ini mempunyai usia yang berbeda dengan kehidupan penciptanya. Karya dapat terus dipentaskan, didengarkan, dipelajari, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, perjalanan terakhir Guruh juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana ia membangun identitas melalui seni. Eksperimen musik hingga pengembangan Swara Maharddhika menunjukkan ketertarikannya dalam mempertemukan tradisi dengan bentuk pertunjukan yang lebih modern. Pendekatan tersebut memberi warna tersendiri dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia. Kini, setelah kepergiannya, karya-karya itulah yang menjadi salah satu penghubung antara Guruh dan generasi yang tidak pernah bertemu dengannya secara langsung.

Dari Rumah Duka Menuju Tempat Peristirahatan di Karet Bivak

Rangkaian pada Sabtu itu bergerak dari kabar duka pada dini hari, kedatangan jenazah ke rumah duka pada pagi hari, hingga pelepasan menuju TPU Karet Bivak menjelang siang. Setiap tahap membawa suasana yang berbeda bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Namun, semuanya berujung pada satu momen yang sama: mengantarkan Guruh menuju tempat peristirahatan terakhir. Peti yang diselimuti Merah Putih, rangkaian bunga, serta keheningan keluarga menjadi bagian dari gambaran perjalanan terakhir tersebut. Guruh kemudian dibawa menuju lokasi pemakaman di dekat makam Fatmawati. Bagi publik, hari itu menandai berakhirnya kehidupan seorang figur seni berusia 73 tahun. Sementara itu, karya yang telah lahir sepanjang hidupnya tetap menjadi bagian dari sejarah budaya populer Indonesia. Pada akhirnya, prosesi pemakaman menutup perjalanan hidupnya, tetapi tidak serta-merta menutup ruang untuk mengenang karya dan pengaruh yang ia tinggalkan.