Prabowo Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Hadiri Syukuran 100 Tahun Gontor

Prabowo Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Hadiri Syukuran 100 Tahun Gontor

Jurna Core – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari puncak peringatan satu abad lembaga pendidikan Islam tersebut. Prabowo tiba di aula sekitar pukul 10.20 WIB dan disambut lantunan selawat serta tabuhan rebana para santri. Peringatan ini juga dihadiri tokoh nasional dan perwakilan sejumlah negara sahabat. Karena itu, suasana Gontor pada hari tersebut tidak hanya menghadirkan nuansa pendidikan dan keagamaan. Ada pula dimensi diplomasi yang terasa melalui kehadiran para diplomat. Sebelumnya, panitia menyebut 15 duta besar telah mengonfirmasi kehadiran. Mereka berasal dari sejumlah negara, termasuk Palestina, Mesir, Qatar, Turki, Yordania, dan Kuwait.

Baca Juga: Kasus Penendangan di Senayan City Viral, Polisi Bantah Isu Teror terhadap Korban

Sapaan kepada Dubes Palestina Mengubah Suasana Acara

Momen yang kemudian menjadi sorotan bermula ketika Prabowo menyapa para tamu dan diplomat yang menghadiri acara. Presiden menyebut perwakilan sejumlah negara satu per satu. Ketika sampai pada Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Al-Sattari, suasana di dalam ruangan berubah semakin riuh. Hadirin memberikan tepuk tangan dan sambutan meriah. Respons tersebut kemudian dijawab Prabowo dengan seruan dukungan kepada Palestina. Interaksi singkat itu membuat isu Palestina muncul kuat di tengah peringatan satu abad Gontor. Namun, momen tersebut tetap menjadi bagian dari rangkaian sambutan Presiden dalam acara. Kehadiran diplomat dari berbagai negara juga memberi konteks internasional pada pertemuan tersebut. Dengan demikian, acara yang berakar pada perjalanan pendidikan pesantren Indonesia turut menghadirkan percakapan mengenai persoalan kemanusiaan dan hubungan antarnegara.

Prabowo Teriakkan ‘Free Palestine’ Tiga Kali

Di tengah sambutannya, Prabowo kemudian meneriakkan “Free Palestine” sebanyak tiga kali. Seruan itu langsung mendapat respons dari para santri dan tamu undangan yang hadir. Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan, sementara perhatian peserta tertuju ke panggung utama. Momen tersebut menjadi salah satu bagian pidato yang paling banyak diberitakan pada hari itu. Seruan Prabowo juga memperlihatkan bagaimana sebuah acara pendidikan dapat bersinggungan dengan isu internasional. Meski berlangsung singkat, respons hadirin membuat adegan tersebut menonjol dalam rangkaian acara. Dari sudut pandang komunikasi publik, interaksi spontan seperti ini sering lebih mudah menarik perhatian daripada bagian pidato yang panjang. Namun, substansi pernyataan tetap perlu dilihat bersama konteks pidato secara keseluruhan. Setelah momen itu, Prabowo melanjutkan sambutannya dan berbicara mengenai kondisi masyarakat Palestina serta pentingnya kekuatan nasional.

Keffiyeh dari Dubes Palestina Warnai Momen di Atas Panggung

Suasana kemudian berlanjut ketika Duta Besar Palestina menghampiri Prabowo dengan membawa keffiyeh. Kain tersebut diberikan dan dikalungkan kepada Presiden di hadapan para peserta acara. Setelah itu, keduanya terlihat berpelukan. Tepuk tangan kembali terdengar dari para santri dan undangan. Keffiyeh sendiri telah lama dikenal secara luas sebagai salah satu simbol yang berkaitan dengan identitas dan solidaritas Palestina. Oleh karena itu, pemberian tersebut memberikan dimensi simbolis pada pertemuan di Gontor. Meski demikian, konteks utamanya tetap berupa interaksi antara Presiden Indonesia dan perwakilan diplomatik Palestina dalam sebuah acara resmi. Momen tersebut juga melengkapi seruan yang sebelumnya disampaikan Prabowo. Dalam pemberitaan pada hari yang sama, adegan pemberian keffiyeh dan pelukan keduanya menjadi salah satu bagian yang banyak mendapat perhatian.

Kondisi Palestina Membuat Pidato Prabowo Berubah Emosional

Setelah interaksi tersebut, Prabowo berbicara mengenai kondisi masyarakat Palestina. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap serangan dan penderitaan yang terus dialami warga Palestina. Dalam pidatonya, Prabowo juga menghubungkan situasi itu dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun kekuatan nasional. Menurutnya, sebuah negara membutuhkan kemampuan yang kuat agar dapat membantu masyarakat lain yang mengalami penindasan. Pesan tersebut membuat pembicaraan tidak berhenti pada seruan solidaritas. Presiden membawa isu itu ke konteks pembangunan Indonesia dan kemampuan negara menghadapi dinamika global. Dalam laporan dari acara tersebut, Prabowo sempat terdengar emosional ketika membicarakan Palestina. Momen ini memberi warna berbeda pada pidato di tengah perayaan satu abad Gontor. Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Presiden dalam pidatonya, sehingga konteks dan atribusinya penting dipertahankan ketika memberitakannya.

Baca Juga: Kasus Tambang Aseng Terkuak, Kerugian Negara Tembus Rp4,09 Triliun

Peringatan 100 Tahun Gontor Memiliki Dimensi Internasional

Peringatan satu abad Gontor memang dirancang sebagai agenda besar dengan kehadiran tamu dari dalam dan luar negeri. Menjelang acara, panitia menyatakan perwakilan dari sedikitnya 15 negara sahabat telah mengonfirmasi kehadiran. Selain para duta besar, Wakil Grand Syekh Al-Azhar juga masuk dalam agenda kegiatan. Kehadiran berbagai delegasi tersebut memperlihatkan jaringan internasional yang berkembang di sekitar Gontor. Selain itu, rangkaian acara tidak hanya berpusat pada resepsi kesyukuran. Sebelum menghadiri acara utama, Prabowo juga dijadwalkan meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa peringatan satu abad membawa tema yang lebih luas, mulai dari pendidikan hingga hubungan internasional. Karena itu, munculnya isu Palestina di tengah acara tidak berdiri sendiri. Momen tersebut berlangsung dalam forum yang memang dihadiri banyak perwakilan negara sahabat.

Dari Perayaan Pendidikan hingga Pesan tentang Kekuatan Bangsa

Ada sisi menarik dari pidato Prabowo ketika pembicaraan mengenai Palestina diarahkan kembali pada pembangunan bangsa. Presiden menyampaikan pandangan bahwa Indonesia harus menjadi negara yang kuat agar memiliki kemampuan membantu pihak lain. Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kesungguhan belajar dan upaya membangun bangsa. Dalam konteks peringatan Gontor, pesan mengenai pendidikan menjadi relevan karena pesantren tersebut sedang memasuki abad keduanya. Dengan demikian, pidato bergerak dari solidaritas internasional menuju pembicaraan mengenai kapasitas nasional. Hubungan antara keduanya merupakan pandangan yang disampaikan Prabowo dalam sambutannya. Bagi pembaca, bagian ini penting karena memberikan konteks lebih luas daripada sekadar momen viral. Seruan “Free Palestine” memang menarik perhatian, tetapi pidato setelahnya menunjukkan pesan lain yang ingin disampaikan Presiden mengenai pendidikan, kekuatan negara, dan kemampuan Indonesia berperan di tingkat internasional.

Momen Prabowo Menjadi Sorotan dalam Perayaan Seabad Gontor

Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor membawa banyak agenda dalam satu rangkaian. Namun, interaksi Prabowo dengan Duta Besar Palestina menjadi salah satu momen yang paling banyak diberitakan pada 19 September 2026. Seruan tiga kali “Free Palestine”, pemberian keffiyeh, serta pelukan di atas panggung membentuk rangkaian peristiwa yang mudah menarik perhatian publik. Di sisi lain, konteks acara tetap penting agar pemberitaan tidak berhenti pada potongan momen tersebut. Gontor sedang memperingati perjalanan satu abadnya sebagai lembaga pendidikan yang berdiri sejak 1926. Acara juga menghadirkan tokoh nasional dan diplomat negara sahabat. Oleh sebab itu, momen Palestina dapat dipahami sebagai salah satu bagian dari acara yang memiliki dimensi pendidikan, keagamaan, dan internasional. Bagi Gontor sendiri, perayaan ini sekaligus menandai perjalanan menuju abad kedua lembaga tersebut.