Robot Rp250 Juta Viral “Mengemis” di Jalan, Minta Uang Isi Baterai

Robot Rp250 Juta Viral “Mengemis” di Jalan, Minta Uang Isi Baterai

Jurna Core – Pemandangan tidak biasa muncul di sebuah trotoar di Chengdu, Provinsi Sichuan, China. Sebuah robot humanoid terlihat berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya kepada orang yang melintas. Gerakannya dibuat menyerupai seseorang yang sedang meminta bantuan. Bahkan, sebuah wadah kecil diletakkan di depannya untuk menerima uang tunai. Tidak berhenti di sana, tersedia pula kode QR bagi orang yang ingin memberikan uang secara nontunai. Adegan tersebut kemudian direkam dan beredar luas di media sosial China. Sekilas, situasinya terlihat seperti pertunjukan jalanan dengan sentuhan teknologi. Namun, keberadaan mesin bernilai ratusan juta rupiah dalam posisi “mengemis” menciptakan kontras yang menarik perhatian. Karena itu, video tersebut tidak hanya mengundang tawa. Banyak warganet mulai mempertanyakan siapa yang mengendalikan mesin itu dan apa sebenarnya tujuan di balik aksinya.

Baca Juga: Zuckerberg Tolak Pembatasan AI, Yakin Industri Mampu Kendalikan Risikonya

Minta Uang untuk Membayar Listrik dan Mengisi Baterai

Cerita menjadi semakin unik ketika pesan dari robot mulai terdengar. Speaker dan layar LED yang berada di dekat mesin tersebut menyampaikan permintaan bantuan secara berulang. Dalam pesan itu, robot seolah mengatakan tidak memiliki cukup uang untuk mengisi ulang baterainya. Oleh sebab itu, orang yang lewat diminta membantu membayar kebutuhan listriknya. Tentu saja, mesin tidak mempunyai kebutuhan finansial seperti manusia. Robot hanya menjalankan instruksi yang sebelumnya dibuat oleh operator atau pemrogramnya. Justru bagian inilah yang membuat aksinya terasa seperti satire kehidupan modern. Manusia biasanya mengisi daya perangkat menggunakan listrik yang mereka bayar sendiri. Namun, kali ini sebuah mesin dibuat seakan harus mencari uang agar dapat terus beroperasi. Selain menghibur, konsep tersebut berhasil menciptakan rasa penasaran. Akibatnya, orang berhenti, memperhatikan robot, mengambil gambar, lalu membagikan momen tersebut melalui media sosial.

Unitree G1 Berharga Ratusan Juta Rupiah

Mesin dalam video tersebut diidentifikasi sebagai Unitree G1, humanoid buatan perusahaan robotika China, Unitree Robotics. Menurut spesifikasi resmi produsennya, G1 memiliki tinggi sekitar 1,32 meter dan berat sekitar 35 kilogram. Model dasarnya dipasarkan mulai 99.000 yuan di China. Dengan nilai tersebut, harga robot berada di kisaran ratusan juta rupiah sebelum memperhitungkan konfigurasi dan biaya lainnya. G1 dirancang sebagai platform humanoid yang memiliki banyak sendi sehingga mampu menghasilkan gerakan tubuh yang cukup fleksibel. Produsennya juga menawarkan versi EDU untuk kebutuhan pengembangan dan penelitian. Dengan karakter tersebut, G1 berbeda jauh dari robot industri tradisional yang biasanya bekerja dalam area terbatas. Bentuk humanoid membuatnya dapat melakukan gerakan yang lebih mudah dikenali manusia. Karena itu, ketika mesin ini berlutut dan menangkupkan tangan, gesturnya dengan cepat menciptakan kesan sosial yang kuat.

Baterai Menjadi Bagian Penting dari Kemampuan Robot

Di balik tingkahnya yang mengundang perhatian, Unitree G1 tetap bergantung pada sumber energi seperti perangkat elektronik lainnya. Spesifikasi resmi Unitree mencantumkan baterai sekitar 9.000 mAh dengan tegangan maksimum 67,2 volt. Perusahaan menyebut waktu operasinya berada di kisaran dua jam. Artinya, pengelolaan daya memang menjadi bagian penting dalam penggunaan robot humanoid. Namun, pesan meminta uang untuk membayar listrik dalam video tersebut tentu tidak berarti mesin memiliki kesadaran finansial. Sistem hanya menjalankan skenario yang telah disiapkan manusia. Perbedaan ini penting karena perkembangan AI sering membuat perilaku mesin terlihat lebih “hidup” daripada kemampuan sebenarnya. Gestur tubuh, suara, dan layar dapat menciptakan kesan bahwa robot memahami situasinya. Padahal, perilaku tersebut bergantung pada perangkat lunak, sensor, serta instruksi yang digunakan. Justru perpaduan inilah yang membuat pertunjukan sederhana di Chengdu terasa begitu menarik bagi masyarakat.

Identitas Pengelola Aksi Masih Menjadi Pertanyaan

Video robot “mengemis” mulai ramai dibicarakan di media sosial China pada Juni 2026. Meski demikian, informasi mengenai pihak yang mengoperasikan mesin tersebut belum jelas dalam laporan yang beredar. Belum ada kepastian apakah aksi itu dibuat oleh individu, kreator konten, penyelenggara acara, atau pihak lain. Unitree Robotics juga belum mengumumkan bahwa adegan tersebut merupakan kampanye resmi perusahaan. Karena itu, berbagai teori yang berkembang sebaiknya diperlakukan sebagai dugaan. Ada yang menilainya sebagai eksperimen pemasaran. Sementara itu, sebagian warganet menganggapnya hanya sebagai pertunjukan untuk membuat konten viral. Kemungkinan tersebut memang dapat menjelaskan penempatan wadah uang, kode QR, serta pesan yang diputar berulang kali. Namun, tanpa konfirmasi dari pengelolanya, tujuan sebenarnya belum dapat dipastikan. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa video viral sering menyebar lebih cepat daripada informasi mengenai konteks di balik pembuatannya.

Baca Juga: Robot Biksu Berbasis AI Muncul, Teknologi Mulai Masuk Ruang Keagamaan

Warganet Menanggapi dengan Humor dan Pertanyaan Ekonomi

Respons terhadap video tersebut sebagian besar diwarnai humor. Banyak warganet merasa ironis melihat robot berharga ratusan juta rupiah justru meminta uang untuk mengisi baterai. Beberapa komentar bahkan mempertanyakan siapa yang sebenarnya membutuhkan uang: mesin tersebut atau orang yang mengoperasikannya. Ada pula candaan bahwa pemiliknya mungkin sedang bersantai sementara robot bekerja mencari pemasukan di jalan. Meski terdengar sederhana, komentar tersebut menunjukkan daya tarik utama video ini. Kontras antara teknologi mahal dan aktivitas meminta sumbangan membuat situasinya terasa tidak masuk akal sekaligus menghibur. Selain itu, pembayaran melalui kode QR menambah unsur modern pada adegan tersebut. Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan dapat dirancang agar mudah dibagikan di media sosial. Tidak dibutuhkan cerita panjang. Cukup sebuah mesin humanoid, gestur yang familiar, dan situasi tidak biasa untuk membuat orang berhenti serta membicarakannya.

Aksi Robot Memunculkan Perdebatan tentang Empati Manusia

Di balik humor, muncul pertanyaan yang lebih menarik mengenai hubungan manusia dengan mesin. Sebagian orang ternyata bersedia memberikan perhatian, bahkan uang, ketika robot menampilkan gestur yang menyerupai permohonan manusia. Respons tersebut tidak otomatis berarti masyarakat menganggap mesin memiliki perasaan. Namun, manusia memang terbiasa membaca gerakan tubuh sebagai bentuk komunikasi sosial. Ketika robot berlutut dan menangkupkan tangan, orang dapat mengenali pola tersebut dalam hitungan detik. Di sinilah perkembangan robot humanoid mulai menghadirkan persoalan baru. Semakin menyerupai perilaku manusia, semakin mudah pula mesin memancing respons emosional. Sementara itu, sebagian warganet mempertanyakan apakah rasa iba tersebut seharusnya diberikan kepada mesin ketika masih banyak manusia membutuhkan bantuan nyata. Perdebatan semacam ini mungkin terdengar terlalu serius untuk sebuah video viral. Namun, kasus tersebut memberikan gambaran kecil tentang pertanyaan sosial yang dapat semakin sering muncul seiring berkembangnya teknologi humanoid.

Robot Humanoid Mulai Keluar dari Laboratorium

Fenomena di Chengdu juga menunjukkan perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan robot. Dahulu, sebagian besar mesin otomatis bekerja di pabrik, gudang, atau laboratorium. Kini, perkembangan humanoid membuat robot semakin sering tampil di ruang publik. Bentuk tubuh menyerupai manusia memungkinkan mesin berjalan, membawa benda, melakukan demonstrasi, hingga berinteraksi dengan orang. Namun, kemampuan tersebut juga membuat batas antara fungsi teknologi dan pertunjukan semakin tipis. Sebuah demonstrasi sederhana dapat berubah menjadi konten viral ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat. Robot yang “mengemis” merupakan contoh menarik. Secara teknis, tidak ada mesin yang benar-benar membutuhkan uang. Namun, skenario tersebut membuat teknologi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari manusia. Karena itu, video ini bukan sekadar cerita tentang baterai. Fenomena tersebut juga memperlihatkan bagaimana robotika, kreativitas, humor internet, dan perilaku sosial mulai bertemu dalam satu ruang publik.