Mastitis Saat Menyusui, Haruskah ASI Dihentikan? Dokter Berikan Penjelasannya

Mastitis Saat Menyusui, Haruskah ASI Dihentikan? Dokter Berikan Penjelasannya

Jurna Core – Mengalami Mastitis Saat Menyusui sering membuat banyak ibu merasa cemas. Payudara yang terasa nyeri, membengkak, hingga disertai demam dapat memunculkan kekhawatiran bahwa ASI tidak lagi aman diberikan kepada bayi. Tidak sedikit ibu akhirnya memilih menghentikan proses menyusui karena takut kondisi tersebut justru memperburuk kesehatan si kecil. Padahal, menurut para ahli laktasi, sebagian besar kasus mastitis tidak mengharuskan ibu berhenti menyusui. Sebaliknya, proses menyusui yang dilakukan dengan benar justru dapat membantu mempercepat pemulihan. Oleh karena itu, memahami penyebab, cara penanganan, dan waktu yang tepat untuk mencari bantuan medis menjadi langkah penting agar ibu tetap percaya diri menjalani masa menyusui.

Baca Juga: Kemenkes Ungkap 21.101 Kasus Campak, Imunisasi Cegah Penyebaran Lebih Luas

Mastitis Menjadi Keluhan yang Cukup Sering Dialami Ibu Menyusui

Mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara yang umumnya terjadi saat masa menyusui. Kondisi ini dapat dipicu oleh saluran ASI yang tersumbat atau infeksi bakteri. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri, kemerahan, pembengkakan, hingga demam. Akibat rasa tidak nyaman tersebut, banyak ibu menjadi ragu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Kekhawatiran itu sebenarnya sangat wajar. Namun, para tenaga kesehatan menjelaskan bahwa mastitis merupakan kondisi yang cukup sering terjadi dan umumnya dapat ditangani dengan baik. Selama mendapatkan penanganan yang tepat, sebagian besar ibu tetap dapat melanjutkan proses menyusui tanpa membahayakan bayi.

Menyusui Justru Membantu Proses Pemulihan

Salah satu anjuran yang paling sering diberikan oleh konsultan laktasi adalah tetap mengosongkan payudara secara teratur. Cara paling efektif untuk melakukannya adalah melalui proses menyusui langsung. Hisapan bayi membantu melancarkan aliran ASI sekaligus mengurangi sumbatan pada saluran susu. Ketika payudara tidak dipenuhi ASI yang tertahan, tekanan di dalam jaringan ikut berkurang sehingga proses peradangan dapat membaik lebih cepat. Karena itu, menghentikan menyusui tanpa alasan medis justru dapat memperparah kondisi. Selain membantu pemulihan, menyusui secara langsung juga mempertahankan produksi ASI agar tetap stabil selama masa penyembuhan berlangsung.

ASI Tetap Aman Dikonsumsi Bayi

Banyak ibu mengira bahwa ASI dari payudara yang mengalami mastitis sudah tidak layak diberikan kepada bayi. Anggapan tersebut sebenarnya tidak tepat. Para ahli menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi lebih banyak memengaruhi rasa ASI, bukan kualitas gizinya. Dalam beberapa kasus, ASI memang dapat terasa sedikit lebih asin. Meski demikian, kandungan nutrisi di dalamnya tetap terjaga dan masih memberikan manfaat yang sama bagi bayi. Oleh sebab itu, ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI hanya karena mengalami mastitis. Selama dokter tidak memberikan larangan khusus, menyusui tetap menjadi pilihan yang aman sekaligus membantu proses penyembuhan.

Bila Terasa Sangat Nyeri, Ada Alternatif yang Bisa Dilakukan

Tidak semua ibu mampu menyusui secara langsung ketika mastitis sedang berada pada fase yang paling nyeri. Puting yang lecet atau pembengkakan yang cukup berat sering kali membuat proses menyusui terasa sangat tidak nyaman. Dalam kondisi seperti itu, ibu tidak perlu memaksakan diri. ASI dapat dikeluarkan terlebih dahulu menggunakan pijatan tangan atau bantuan pompa ASI. Langkah tersebut tetap membantu mengurangi penumpukan ASI di dalam payudara. Setelah rasa nyeri mulai berkurang, proses menyusui langsung dapat dilakukan kembali secara bertahap. Pendekatan ini sering menjadi solusi agar ibu tetap nyaman tanpa menghentikan pemberian ASI.

ASI yang Bercampur Darah Tidak Selalu Berbahaya

Sebagian ibu merasa panik ketika melihat ASI bercampur sedikit darah. Kondisi tersebut memang dapat terjadi, terutama saat payudara mengalami pembengkakan atau saluran ASI tersumbat. Namun, dalam banyak kasus, jumlah darah yang sangat sedikit masih dinilai aman bagi bayi. Meski demikian, ibu tetap perlu memperhatikan penyebabnya. Jika darah muncul terus-menerus, jumlahnya semakin banyak, atau disertai nyeri yang semakin berat, pemeriksaan ke dokter sebaiknya segera dilakukan. Dengan begitu, penyebab perdarahan dapat dipastikan dan penanganan yang tepat bisa segera diberikan sebelum muncul komplikasi.

Baca Juga: Kebiasaan yang Membantu Mengurangi Rambut Rontok Secara Alami

Penanganan Sederhana Dapat Membantu Meredakan Gejala

Selain tetap mengosongkan payudara, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mempercepat pemulihan mastitis. Kompres hangat sebelum menyusui sering dianjurkan untuk membantu melancarkan aliran ASI. Setelah itu, pijatan lembut di area yang terasa penuh dapat mengurangi sumbatan pada saluran susu. Ibu juga dianjurkan beristirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan cairan setiap hari. Bila dokter meresepkan antibiotik, obat sebaiknya diminum sesuai petunjuk hingga selesai. Kombinasi berbagai langkah tersebut umumnya memberikan hasil yang baik apabila dilakukan sejak gejala pertama mulai muncul.

Jangan Melewatkan Jadwal Menyusui

Saat mengalami nyeri, sebagian ibu memilih mengurangi frekuensi menyusui karena khawatir rasa sakit akan bertambah. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk mastitis. Penumpukan ASI di dalam payudara membuat tekanan semakin meningkat sehingga peradangan menjadi lebih sulit membaik. Oleh karena itu, jadwal menyusui sebaiknya tetap dijaga secara teratur. Bila bayi belum menyusu, ibu dapat memerah ASI agar payudara tetap kosong. Langkah sederhana ini memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran produksi ASI sekaligus membantu proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.

Kenali Tanda yang Membutuhkan Penanganan Dokter

Walaupun sebagian besar kasus mastitis dapat membaik dengan penanganan yang tepat, ibu tetap perlu mengenali tanda bahaya. Demam tinggi yang tidak kunjung turun, nyeri yang semakin berat, muncul benjolan yang membesar, atau keluarnya nanah dari payudara menjadi sinyal bahwa pemeriksaan medis tidak boleh ditunda. Penanganan sejak dini dapat mencegah terbentuknya abses yang memerlukan tindakan lebih lanjut. Selain itu, konsultasi dengan dokter atau konsultan laktasi juga membantu ibu memperoleh solusi yang sesuai dengan kondisinya. Dengan penanganan yang cepat, sebagian besar ibu dapat kembali menyusui secara nyaman tanpa harus menghentikan pemberian ASI kepada bayinya.